Fusi menjanjikan energi yang bersih, aman, dengan bahan bakar yang melimpah (dari air laut dan litium) dan limbah radioaktif minimal. Contoh proyek internasional fusi nuklir adalah ITER (Mathew, 2022; Quiroga-Barriga et al., 2025).
Tantangan dan Keterbatasan
Meskipun memiliki potensi, ekspansi energi nuklir menghadapi sejumlah tantangan signifikan:
1. Biaya Ekonomi
PLTN memiliki biaya modal awal yang sangat tinggi dan waktu konstruksi yang panjang, seringkali diwarnai penundaan dan pembengkakan biaya.
Hal ini membuat energi nuklir sulit bersaing secara ekonomi dengan gas alam atau sumber terbarukan yang biayanya terus menurun (Fernández-Arias et al., 2024; Quiroga-Barriga et al., 2025).
2. Manajemen Limbah Radioaktif
Limbah tingkat tinggi (HLW), terutama bahan bakar bekas, tetap bersifat radioaktif selama ribuan tahun dan memerlukan isolasi jangka panjang yang aman.
Pembuangan geologis dalam (DGR) dianggap sebagai solusi paling layak, tetapi implementasinya terhambat oleh tantangan teknis, biaya, dan penerimaan.
3. Keamanan dan Risiko Kecelakaan
Meskipun PLTN modern memiliki standar keamanan yang sangat tinggi dengan sistem keselamatan berlapis dan pasif, risiko kecelakaan parah (meskipun probabilitasnya rendah) tidak dapat dihilangkan sepenuhnya (Muellner et al., 2021; Quiroga-Barriga et al., 2025).
Kecelakaan masa lalu seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima telah meninggalkan dampak mendalam pada persepsi publik dan kebijakan energi (Hans, n.d.; Popa & Cocoș, 2021; Quiroga-Barriga et al., 2025).