Warga mengamati kayu-kayu gelondongan yang terdampar pascabanjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11). (foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
BANJIR dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan titik kulminasi dari kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama.
Bencana ini adalah cermin besar yang menampilkan wajah relasi kita dengan bumi—relasi yang retak, pincang, dan kehilangan keseimbangan.
Curah hujan ekstrem mungkin menjadi sebab langsung, namun akar persoalannya jauh lebih dalam. Manusia telah menutup telinga dari pesan ekologis yang diberikan oleh alam itu sendiri.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dan longsor yang terjadi di tiga wilayah bagian barat Indonesia tersebut, telah menelan ratusan korban jiwa, puluhan orang hilang dan ribu orang terpaksa mengungsi.
Dalam pandangan seorang filsuf muslim sekaligus sufi terkemuka abad ke 12, Ibnu 'Arabi, alam adalah manifestasi dari tajalli Ilahi.
Setiap batu, sungai, tanah, pepohonan, dan gunung merupakan bentuk pernyataan Tuhan tentang keberadaan-Nya. Maka merusak alam berarti merusak "teks" yang sedang Tuhan bacakan kepada manusia.
Ketika hutan Aceh gundul, ketika aliran sungai di Sumatera Barat disempitkan demi pembangunan, atau ketika tanah Sumatera Utara kehilangan daya dukungnya akibat eksploitasi, yang rusak bukan hanya ekosistem melainkan keselarasan kosmik.
Bencana kemudian menjadi semacam "reaksi balik" dari ketidakseimbangan wujud itu sendiri.
Bagi Ibnu 'Arabi, bencana bukan hukuman, melainkan isyarat ontologis: alam sedang berbicara, mengingatkan manusia bahwa mereka telah salah memahami posisi sebagai khalifah atau penjaga.
Nampaknya tidak berlebihan jika selama ini "kita lebih sibuk menjadi penguasa daripada penjaga."
Berbicara bencana ekologis, seorang filsuf Muslim kontemporer asal Iran, Seyyed Hossein Nasr, telah lama mengingatkan kita. Nasr melihat akar krisis ekologis pada hilangnya kesadaran sakral dalam memandang dunia.