Selat Hormuz Kembali Dibuka, Tapi Indonesia Masih Tertinggal
JAKARTA Iran mulai membuka akses Selat Hormuz bagi kapalkapal dari negara tertentu yang dianggap sahabat. Dalam pernyataan resmi Konsul
INTERNASIONAL
Oleh:Didiek Hadjar Goenadi
BERBAGAI komentar negatif terus dinarasikan dalam beberapa bulan terakhir ini terkait dengan komoditas nonmigas andalan utama ekonomi nasional, yakni kelapa sawit. Komentar di berbagai fora cetak dan elektronik yang 'mengadili' perkebunan kelapa sawit makin gencar.
Apalagi setelah ada bencana banjir di berbagai provinsi akhir-akhir ini, seiring dengan meningkatnya intensitas perubahan iklim yang memicu curah hujan berlebih di berbagai wilayah Indonesia. Respons yang lebih ilmiah dari beberapa ilmuwan dalam menjelaskan fenomena alami tersebut seolah tenggelam, tergulung oleh narasi diskriminasi terhadap komoditas ini.Baca Juga:
CITRA BURUK TANAMAN KELAPA SAWIT
Tanaman kelapa sawit secara spesies tergolong tanaman asal hutan meskipun di Indonesia oleh undang-undang tidak digolongkan sebagai tanaman hutan--padahal tanaman palma sejenis seperti aren dimasukkan sebagai tanaman hutan.
Dengan kemajuan yang sangat pesat, baik dari aspek luasan maupun produktivitas minyak nabati, tentu dapat dipahami bahwa kondisi itu memicu kepanikan negara-negara penghasil minyak nabati asal kedelai, rapeseed, canola, dan jagung.
Dengan tingkat produktivitas minyak yang tinggi (5-7 ton minyak/hektare/tahun), kelapa sawit dapat menunjukkan sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia jika dibandingkan dengan komoditas lainnya (1,0-1,5 ton/ hektare /tahun).
Artinya, untuk menghasilkan satu ton minyak kelapa sawit hanya perlu luasan lahan seperlima daripada yang dibutuhkan untuk tanaman minyak nabati lainnya. Sebelum beberapa tahun terakhir, harga minyak kelapa sawit selalu di bawah harga minyak nabati lain.
Namun, dengan kelangkaan pasokan, harga minyak kelapa sawit menjadi yang paling mahal di antara pesaingnya akibat anjloknya produksi.
Beragam keunggulan itu memicu sentimen negatif terhadap komoditas ini, yang tentunya sudah bisa diduga siapa pemicunya.
Berbagai tuduhan dilontarkan terkait dengan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pemicu deforestasi, konsumsi air yang boros, menggusur habitat satwa langka, serta memicu emisi gas rumah kaca (GRK), juga konflik penguasaan lahan.
Tuduhan tersebut tentu hanya dapat ditangkal dengan data untuk menyanggahnya sekaligus menggugurkan narasi diskriminatif yang dilontarkan.
JAKARTA Iran mulai membuka akses Selat Hormuz bagi kapalkapal dari negara tertentu yang dianggap sahabat. Dalam pernyataan resmi Konsul
INTERNASIONAL
JAKARTA Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Mayjen Yudi Abrimantyo, resmi menanggalkan jabatannya setelah empat prajurit BAIS d
NASIONAL
JAKARTA Direktur PT Bank Central Asia, Santoso Liem, menyampaikan optimisme terhadap jajaran Otoritas Jasa Keuangan yang baru dilantik.
EKONOMI
JAKARTA Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyatakan pihaknya akan menggelar rapat untuk membahas dugaan pelecehan seksual yang me
NASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi merespons laporan yang diajukan Boyamin Saiman dari Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) ke Dewa
POLITIK
JAKARTA Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP, TB Hasanuddin, menegaskan proses hukum terhadap empat prajurit Badan Intelijen Strategis
NASIONAL
JAKARTA Dewan Energi Nasional (DEN) menilai anjuran Badan Energi Internasional atau International Energy Agency untuk mengurangi penggun
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan program hilirisasi sumber daya alam sekaligus menegaskan bahwa pengelolaannya harus
EKONOMI
JAKARTA Organisasi masyarakat sipil, Imparsial, menilai pengunduran diri Letnan Jenderal Yudi Abrimantyo dari jabatan Kepala Badan Intel
HUKUM DAN KRIMINAL
BANDA ACEH Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa pemanfaatan tambahan Transfer Keuangan Daerah (TKD) pascabencana h
PEMERINTAHAN