BREAKING NEWS
Jumat, 22 Mei 2026

Republik Rem Blong

BITV Admin - Jumat, 22 Mei 2026 14:52 WIB
Republik Rem Blong
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Fathul Wahid

KATANYA, negeri ini sudah reformasi.

Ibarat sebuah bus: nama trayek diperbarui, nomor bus dicat ulang, slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan.

Baca Juga:

Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih.

Catnya memang baru.
Kursinya lebih empuk.
Ada pendingin udara.
Ada koneksi internet.
Ada aplikasi pengaduan.

Tetapi remnya tetap blong, dan setirnya selalu diperebutkan.

Setiap lima tahun, kita diminta memilih sopir baru.

Sopir lama turun sambil melambaikan tangan, lalu pindah kursi menjadi komisaris perusahaan transportasi.

Sopir baru, yang kadang kroni sopir lama, naik membawa slogan perubahan.

Pidatonya penuh kata-kata segar: transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial, dan sesekali berteriak, "Demi rakyat kecil!"

Rakyat kecil pun terharu. Meski tetap kecil.


Bus melaju lagi.
Lubang jalannya masih sama.
Macetnya masih sama.
Premannya kadang orang yang sama,
hanya warna jaketnya berbeda.

Penumpang kaya duduk nyaman dekat AC, selonjoran sambil minum kopi.

Penumpang biasa berdiri sambil berpegangan tiang, kadang pada keyakinan, kadang pada cicilan.

Yang miskin diminta sabar karena katanya bus sedang menuju kemajuan.

Yang kritis diminta sopan karena sopir mudah tersinggung.

Yang protes terlalu keras disuruh turun di terminal berikutnya dan "kalau tidak suka, pindah saja ke bus lain."

Sementara itu, para oligark duduk di kursi paling belakang, bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak.

Mereka tidak terlalu peduli siapa sopirnya. Karena merekalah pemilik bus sebenarnya.

Kadang mereka bertengkar di televisi.
Saling sindir.
Saling lapor.
Saling membuka dosa masa lalu.

Tetapi setelah kamera mati, mereka makan malam semeja dan tertawa lepas seperti reuni para besti.

Hukum di bus ini juga unik.

Seperti pintu putar hotel mewah: terbuka otomatis untuk yang punya kuasa, tetapi macet untuk rakyat biasa.

Copet recehan diproses cepat.

Maling ban serep bus diproses hati-hati, katanya demi asas praduga tak bersalah, sambil lirik kiri-kanan menghitung kemungkinan kolaborasi.

Kadang penumpang ingin turun.

Tetapi ongkos hidup terlalu mahal, dan halte alternatif belum tentu ada.

Maka sebagian memilih tidur.

Sebagian pura-pura menikmati perjalanan.

Sebagian lagi menjadi tukang sorak agar bisa duduk dekat colokan listrik sumber kehidupan.

Bus itu terus melaju, meski terseok, mengangkut pidato, baliho, hasil survei, dan janji yang didaur ulang setiap musim pemilu.

Sialnya, para penumpang selalu tertipu.

Tujuan bus tak pernah benar-benar jelas.

Namun kernet selalu berteriak: "Tenang, Ibu Bapak! Bus ini sedang menuju masa depan!"


Sementara bau kopling terbakar makin terasa dari bawah kursi sopir.*

*) Penulis adalah Rektor Universitas Islam Indonesia

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ramai Kritik MBG, Wakil Kepala BGN Beri Respons Tegas
Wapres Gibran Ajak Pemuda Muhammadiyah Terlibat Langsung dalam Pembangunan Wilayah 3T, Termasuk Papua
Tak Lagi Abu-Abu, Status Pembela HAM Resmi Diakui Negara!
RUU HAM Larang Anggota dan Purnawirawan TNI-Polri Jadi Komisioner Komnas HAM
Didesak Mundur dari Jabatan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud: Jadi Anggota Dewan Dulu Baru Bisa Ngomong Begitu
Luke Thomas Mahony Calon Bos PT DSI, Golkar: Bisa Putus Mata Rantai Kongkalikong Ekspor SDA
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru