Dolar AS Tembus Rp17.700, BI Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Separah Krisis 1998
JAKARTA Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik setelah mata uang Garuda menye
EKONOMI
Oleh:Fathul Wahid
KATANYA, negeri ini sudah reformasi.
Ibarat sebuah bus: nama trayek diperbarui, nomor bus dicat ulang, slogan ditempel besar-besar di badan kendaraan.Baca Juga:
Tetapi bus itu tetap berjalan tertatih.
Catnya memang baru.
Kursinya lebih empuk.
Ada pendingin udara.
Ada koneksi internet.
Ada aplikasi pengaduan.
Tetapi remnya tetap blong, dan setirnya selalu diperebutkan.
Setiap lima tahun, kita diminta memilih sopir baru.
Sopir lama turun sambil melambaikan tangan, lalu pindah kursi menjadi komisaris perusahaan transportasi.
Sopir baru, yang kadang kroni sopir lama, naik membawa slogan perubahan.
Pidatonya penuh kata-kata segar: transformasi, hilirisasi, akselerasi, gentengisasi, keadilan sosial, dan sesekali berteriak, "Demi rakyat kecil!"
Rakyat kecil pun terharu. Meski tetap kecil.
Bus melaju lagi.
Lubang jalannya masih sama.
Macetnya masih sama.
Premannya kadang orang yang sama,
hanya warna jaketnya berbeda.
Penumpang kaya duduk nyaman dekat AC, selonjoran sambil minum kopi.
Penumpang biasa berdiri sambil berpegangan tiang, kadang pada keyakinan, kadang pada cicilan.
Yang miskin diminta sabar karena katanya bus sedang menuju kemajuan.
Yang kritis diminta sopan karena sopir mudah tersinggung.
Yang protes terlalu keras disuruh turun di terminal berikutnya dan "kalau tidak suka, pindah saja ke bus lain."
Sementara itu, para oligark duduk di kursi paling belakang, bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka tidak terlalu peduli siapa sopirnya. Karena merekalah pemilik bus sebenarnya.
Kadang mereka bertengkar di televisi.
Saling sindir.
Saling lapor.
Saling membuka dosa masa lalu.
Tetapi setelah kamera mati, mereka makan malam semeja dan tertawa lepas seperti reuni para besti.
Hukum di bus ini juga unik.
Seperti pintu putar hotel mewah: terbuka otomatis untuk yang punya kuasa, tetapi macet untuk rakyat biasa.
Copet recehan diproses cepat.
Maling ban serep bus diproses hati-hati, katanya demi asas praduga tak bersalah, sambil lirik kiri-kanan menghitung kemungkinan kolaborasi.
Kadang penumpang ingin turun.
Tetapi ongkos hidup terlalu mahal, dan halte alternatif belum tentu ada.
Maka sebagian memilih tidur.
Sebagian pura-pura menikmati perjalanan.
Sebagian lagi menjadi tukang sorak agar bisa duduk dekat colokan listrik sumber kehidupan.
Bus itu terus melaju, meski terseok, mengangkut pidato, baliho, hasil survei, dan janji yang didaur ulang setiap musim pemilu.
Sialnya, para penumpang selalu tertipu.
Tujuan bus tak pernah benar-benar jelas.
Namun kernet selalu berteriak: "Tenang, Ibu Bapak! Bus ini sedang menuju masa depan!"
Sementara bau kopling terbakar makin terasa dari bawah kursi sopir.*
*) Penulis adalah Rektor Universitas Islam Indonesia
JAKARTA Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik setelah mata uang Garuda menye
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat sektor ekonomi hingga tokoh penting Badan Pengelola Investasi (BPI) Dananta
NASIONAL
JAKARTA Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo akhirnya buka suara terkait kasus dugaan korupsi proyek senilai Rp16 miliar yang menye
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali menguat hingga mendekati level Rp15.000 per do
EKONOMI
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kepercayaan investor internasional terhadap perekonomian Indonesia masih tet
EKONOMI
JAKARTA CEO BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengungkap alasan penunjukan warga negara Au
EKONOMI
JAKARTA Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta menolak permohonan banding mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi, dalam kasus gratif
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman memastikan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat ditahan otoritas
NASIONAL
JAKARTA Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa susu formula tidak termasuk dalam program Makan Bergizi Gratis
KESEHATAN
MEDAN Kegiatan Kongres V KORNAS GERBRAK yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat akhirnya resmi ditunda. Keputusan tersebu
NASIONAL