Peringatan Hari Lahir Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) ke-3 yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tapaktuan. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Namun, yang lebih penting dari sekadar konsep adalah implementasinya. Aksi memungut sampah di RTH Tapaktuan mungkin tampak sederhana, bahkan sehari-hari.
Tetapi justru di situlah letak kekuatannya: dakwah menjadi hadir dalam bentuk tindakan nyata, bukan hanya narasi normatif.
Antara Simbol, Edukasi, dan Tantangan Konsistensi
Kegiatan yang dilakukan secara serentak di beberapa wilayah Aceh Selatan menunjukkan adanya upaya serius untuk membangun gerakan kolektif.
Dari Labuhan Haji hingga Trumon Raya, pola yang sama diulang: edukasi lingkungan, pemilahan sampah, dan aksi bersih bersama.
Namun, sebagaimana banyak program berbasis komunitas lainnya, tantangan terbesar tidak terletak pada pelaksanaan seremonial, melainkan pada keberlanjutan.
Kesadaran lingkungan sering kali kuat pada momentum kegiatan, tetapi melemah setelahnya.
Di sinilah peran institusi keagamaan menjadi krusial. Jika dakwahlingkungan hanya berhenti pada kegiatan tahunan, maka dampaknya akan terbatas.
Tetapi jika ia masuk ke ruang-ruang rutin seperti masjid, majelis taklim, dan pendidikan formal, maka ia berpotensi menjadi budaya baru.
Ruang Publik dan Pendidikan Kesadaran
Pemilihan RTH Tapaktuan sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna simbolik.
Ruang publik yang selama ini hanya menjadi tempat aktivitas sosial biasa, diubah menjadi ruang edukasi moral dan lingkungan.