Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Retorika demografi pintar dan geografis luas hanyalah cara lain untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan struktural.
Dengan terus mengulang narasi ini, pemerintah seolah menormalisasi ketertinggalan.
Padahal yang diperlukan adalah keberanian membongkar akar birokrasi yang membelenggu pendidikan dan riset.
Rekonstruksi Ekosistem Riset
Narasi kemandirian teknologi yang terisolasi dari jejaring global berisiko jatuh ke dalam tekno-nasionalisme populistik.
Memaksa periset menciptakan ulang seluruh rantai teknologi demi martabat bangsa tanpa integrasi dengan "global value chain of knowledge" hanya akan membuang waktu dan sumber daya.
Sains tidak bisa tumbuh dalam isolasi, karena sesungguhnya sains bernafas dalam kolaborasi lintas batas.
Gagasan mendirikan sekolah unggulan berstandar "International Baccalaureate" (IB) untuk menjaring anak-anak terpintar adalah strategi elitistis yang berisiko menciptakan segregasi epistemik.
Segelintir elite intelektual akan terasing dari realitas sosio-kultural lokal.
Pembangunan sains berkelanjutan menuntut demokratisasi akses pengetahuan, bukan pengotakan sekolah unggulan.
Segregasi epistemik ini berbahaya karena menciptakan jurang antara elite intelektual dan masyarakat luas.
Alih-alih membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif, negara justru memperkuat kasta akademik yang terputus dari realitas sosial.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.