Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Janji peningkatan investasi riset melalui penghematan anggaran dan pemberantasan korupsi adalah postur fiskal rapuh.
Tanpa "mandatory allocation" dari PDB, riset Indonesia akan terus menjadi korban fluktuasi politik.
Negara maju tidak pernah menggantungkan nasib sains pada "sisa penghematan fiskal", melainkan menjadikannya prioritas fiskal yang dilindungi undang-undang.
Harapan-harapan baik dari pertemuan Presiden dan periset BRIN diharapkan bukan sekadar retorika kebangsaan.
Sains Indonesia hanya akan melompat maju jika pemerintah berani melakukan rekonstruksi radikal: Mengembalikan otonomi epistemik kepada peneliti, mendekonsentrasi birokrasi BRIN, menetapkan alokasi wajib riset berbasis PDB, dan menjamin kebebasan mimbar akademik.
Tanpa itu, mimpi sains sebagai pembebas kemiskinan dan pendorong Indonesia Emas 2045 akan kandas menjadi selebrasi di balik tembok Istana.
Pertemuan Presiden dengan periset BRIN di Istana bukan sekadar pesta sains, melainkan panggung politik yang berisiko menjadikan riset sebagai alat legitimasi kekuasaan.
Di balik genteng limbah dan sepatu murah yang dipamerkan, terselip ancaman lebih serius: Sains didegradasi menjadi bengkel aplikatif, sementara riset fundamental yang seharusnya mengguncang "status quo" justru tersingkir.
Jika pemerintah hanya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kosmetika kebijakan, maka harapan besar mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 akan kandas sebelum bisa berlari.
Jika pertemuan Presiden dan periset BRIN hanya berhenti pada pameran genteng limbah dan retorika demografi intelektual, maka sains Indonesia akan terus terjebak dalam lingkaran kosmetika politik.
Ilmu pengetahuan tidaklah dilahirkan dari panggung selebrasi, melainkan dari keberanian membongkar sumbatan birokrasi, komitmen fiskal yang struktural, dan kebebasan epistemik yang dijamin negara.
Tanpa rekonstruksi radikal, BRIN akan tetap menjadi bengkel aplikatif yang melayani agenda kekuasaan, bukan pusat pengetahuan yang menyalakan obor peradaban.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.