BREAKING NEWS
Sabtu, 26 September 2026

Berharap Apa dari Pertemuan Presiden dengan Periset BRIN?

Redaksi - Senin, 10 Agustus 2026 08:52 WIB
Berharap Apa dari Pertemuan Presiden dengan Periset BRIN?
Presiden Prabowo Subianto meninjau sejumlah hasil riset dan inovasi yang dikembangkan BRIN sebelum menemui sekitar 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 6 Agustus 2026. (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Janji peningkatan investasi riset melalui penghematan anggaran dan pemberantasan korupsi adalah postur fiskal rapuh.

Tanpa "mandatory allocation" dari PDB, riset Indonesia akan terus menjadi korban fluktuasi politik.

Negara maju tidak pernah menggantungkan nasib sains pada "sisa penghematan fiskal", melainkan menjadikannya prioritas fiskal yang dilindungi undang-undang.

Harapan-harapan baik dari pertemuan Presiden dan periset BRIN diharapkan bukan sekadar retorika kebangsaan.

Sains Indonesia hanya akan melompat maju jika pemerintah berani melakukan rekonstruksi radikal: Mengembalikan otonomi epistemik kepada peneliti, mendekonsentrasi birokrasi BRIN, menetapkan alokasi wajib riset berbasis PDB, dan menjamin kebebasan mimbar akademik.

Tanpa itu, mimpi sains sebagai pembebas kemiskinan dan pendorong Indonesia Emas 2045 akan kandas menjadi selebrasi di balik tembok Istana.

Pertemuan Presiden dengan periset BRIN di Istana bukan sekadar pesta sains, melainkan panggung politik yang berisiko menjadikan riset sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Di balik genteng limbah dan sepatu murah yang dipamerkan, terselip ancaman lebih serius: Sains didegradasi menjadi bengkel aplikatif, sementara riset fundamental yang seharusnya mengguncang "status quo" justru tersingkir.

Jika pemerintah hanya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kosmetika kebijakan, maka harapan besar mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 akan kandas sebelum bisa berlari.

Jika pertemuan Presiden dan periset BRIN hanya berhenti pada pameran genteng limbah dan retorika demografi intelektual, maka sains Indonesia akan terus terjebak dalam lingkaran kosmetika politik.

Ilmu pengetahuan tidaklah dilahirkan dari panggung selebrasi, melainkan dari keberanian membongkar sumbatan birokrasi, komitmen fiskal yang struktural, dan kebebasan epistemik yang dijamin negara.

Tanpa rekonstruksi radikal, BRIN akan tetap menjadi bengkel aplikatif yang melayani agenda kekuasaan, bukan pusat pengetahuan yang menyalakan obor peradaban.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Butuh Modal Usaha? KUR BNI 2026 Rp100 Juta, Cicilan 5 Tahun Mulai Rp1,93 Juta per Bulan
Prihatin 43 Mahasiswa Berhenti Kuliah karena Biaya, Bobby Nasution Siapkan Beasiswa di Poltekkes Gunungsitoli
Kebakaran Hebat di Aceh Tengah, 96 Rumah Kayu di Jeget Ayu Ludes Terbakar
HUT Ke-1 Partai Rakyat Indonesia Meriah, DPD PRI Sumut Siap Hadapi Pemilu 2029
Kaesang vs Puan di Jateng V, Siapa Lebih Kuat: Pengaruh Jokowi atau Mesin PDIP?
Banyak Kepala Daerah Mulai Dilirik untuk Pilpres 2029, Pengamat: Sinyal Positif Demokrasi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru