JAKARTA – PEMERINTAH melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Upaya ini melibatkan pemerintah daerah, pihak swasta, hingga perguruan tinggi untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia terus memperkuat strategi pengelolaan sampah nasional dengan pendekatan berbasis teknologi dan kolaborasi multipihak.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan bernilai ekonomi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan, pengelolaan sampah tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional, melainkan harus melibatkan inovasi teknologi serta partisipasi sektor swasta agar sistem dapat berjalan secara mandiri.
"Pengelolaan sampah perlu didorong dengan pendekatan yang lebih efisien dan berkelanjutan, termasuk melalui keterlibatan pihak swasta agar sistem yang dibangun memiliki nilai ekonomi dan dapat berjalan secara mandiri," ujar Brian dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyoroti tingginya volume sampah di wilayah perkotaan yang belum diimbangi dengan kapasitas pengolahan yang memadai. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan percepatan penanganan, terutama melalui penguatan sistem pemilahan dari sumber.
"Penumpukan sampah sangat besar, sementara pengolahannya masih sangat kecil. Ini yang perlu kita percepat, termasuk dengan memperkuat pemilahan dari sumber agar beban di hilir bisa berkurang," kata Diaz.
KLH bersama pemerintah daerah telah melakukan pemetaan lokasi Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang berpotensi dikembangkan menjadi fasilitas TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) maupun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Ratusan titik telah teridentifikasi meski sebagian masih memerlukan peningkatan kapasitas.
Selain itu, pemerintah juga mendorong optimalisasi rantai pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan ekosistem daur ulang dan pengelolaan sampah organik berbasis kemitraan dengan pelaku usaha dan komunitas.
Sejumlah proyek percontohan (pilot project) juga telah berjalan dan dinilai berpotensi untuk direplikasi di berbagai daerah.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta percepatan pengembangan dan uji coba teknologi pengolahan sampah skala mikro di berbagai wilayah Indonesia.
Ke depan, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus melibatkan perguruan tinggi dalam pengembangan inovasi serta solusi konkret untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah nasional.*