BREAKING NEWS
Senin, 27 April 2026

Banjir dan Longsor Hebat di Bogor, Dedi Mulyadi Tekankan Perlunya Penghentian Alih Fungsi Lahan

Adelia Syafitri - Senin, 03 Maret 2025 16:22 WIB
Banjir dan Longsor Hebat di Bogor, Dedi Mulyadi Tekankan Perlunya Penghentian Alih Fungsi Lahan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan keprihatinannya terhadap bencana yang terjadi, melalui akun media sosial pribadinya pada Senin (3/3/2025).
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BOGOR -Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Barat (Jabar) terus menambah potensi terjadinya bencana alam seperti banjir dan longsor.

Beberapa daerah yang terdampak cukup parah antara lain Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bogor, di mana tingginya curah hujan telah menyebabkan meluapnya sungai dan longsornya tanah.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan keprihatinannya terhadap bencana yang terjadi, terutama terkait dengan meluapnya Sungai Jayanti di Kabupaten Bogor yang menyebabkan banjir besar dan merendam pemukiman warga.

"Saya belum mengetahui secara pasti penyebab utama meluapnya Sungai Jayanti, namun hal ini perlu segera dikaji agar solusi yang tepat dapat diambil," ungkap Dedi Mulyadi melalui akun media sosial pribadinya pada Senin (3/3/2025).

Alih Fungsi Lahan di Puncak Bogor

Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi juga menyoroti masalah alih fungsi lahan di kawasan Puncak Bogor.

Ia menyebutkan lebih dari seribu hektare lahan perkebunan teh di kawasan tersebut telah beralih fungsi, yang bisa memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.

"Alih fungsi lahan di Puncak Bogor harus segera dihentikan demi menjaga keseimbangan ekosistem," tegasnya.

Ia mengusulkan agar lahan yang telah beralih fungsi kembali dipulihkan untuk konservasi lingkungan, dengan berkoordinasi bersama pihak terkait seperti PTPN dan Perhutani Jawa Barat.

"Sejak zaman kolonial, Belanda menanam teh di kawasan ini tidak hanya untuk produksi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan dan perlindungan lahan," tambahnya.

Bencana Pergeseran Tanah di Tasikmalaya

Gubernur Dedi Mulyadi juga memberikan perhatian pada bencana pergeseran tanah yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, di mana 92 kepala keluarga terdampak, dengan 55 rumah rusak berat.

Selain itu, dua sarana ibadah juga ikut terdampak.

Sebagian warga terpaksa mengungsi di kantor desa dan rumah kerabat terdekat.

Sebagai solusi, Dedi mengusulkan agar desain hunian di wilayah tersebut diubah dari rumah tembok menjadi rumah panggung.

Rumah panggung dengan konstruksi yang tepat dianggap lebih adaptif terhadap kondisi tanah yang labil dan dapat mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang.

Ia juga menekankan pentingnya kelengkapan fasilitas untuk kenyamanan masyarakat, meskipun dengan desain hunian yang lebih adaptif.

Bantuan kepada Warga Terdampak

Pemprov Jawa Barat melalui Dinas Sosial dan BPBD Jabar telah turun ke lokasi untuk memberikan bantuan logistik bagi warga yang terdampak, termasuk air bersih, makanan, dan toilet portabel.

Dedi Mulyadi memastikan kebutuhan pokok, terutama untuk sahur dan buka puasa selama Ramadan, akan tetap tercukupi.

"Demi keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka, kami juga berharap warga yang terdampak bersedia untuk direlokasi ke lahan yang telah disiapkan oleh pemerintah desa," ujar Dedi Mulyadi.

(rp/a)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru