BREAKING NEWS
Kamis, 23 April 2026

Wamen ESDM: Lokasi Tambang Emas yang Diduga Picu Banjir Sumatera Jauh dari Wilayah Bencana

Adelia Syafitri - Senin, 01 Desember 2025 22:41 WIB
Wamen ESDM: Lokasi Tambang Emas yang Diduga Picu Banjir Sumatera Jauh dari Wilayah Bencana
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung. (Foto: Tangkapan Layar @tanjungyuliot / IG)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan bahwa lokasi tambang emas yang disebut-sebut sebagai penyebab banjir bandang di Pulau Sumatera berada jauh dari titik bencana.

"Katanya wilayah kerjanya jauh," ujar Yuliot usai menghadiri rapat di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (1/12/2025).

Baca Juga:
Yuliot menambahkan bahwa Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan turun langsung ke tiga provinsi terdampak banjir bandang dan longsor untuk memastikan kondisi lapangan, mulai dari ketersediaan energi hingga keberadaan lokasi tambang yang dituding sebagai pemicu bencana.

"Ini dicek di lapangan, besok Pak Menteri akan lihat dari atas," kata Yuliot.

Sebelumnya, Walhi Sumut menyebut bahwa bencana banjir dan longsor di beberapa kabupaten di Sumatera Utara tidak semata akibat intensitas hujan, tetapi juga dampak kerusakan ekosistem Batang Toru selama ini.

Mereka menyoroti pembukaan hutan yang masif, termasuk di atas perbukitan yang kaya nilai konservasi, serta keberadaan tambang emas PT Agincourt Resources (Martabe) di Harangan Tapanuli, Kecamatan Batang Toru Tapanuli Selatan.

Walhi Sumut menegaskan bahwa izin operasi tambang harus dievaluasi dengan memperhatikan dampak lingkungan, dan segala bentuk eksploitasi alam harus berbasis kajian AMDAL yang cermat.

"Tidak ada ruang bagi investasi jika masyarakat dan lingkungan menjadi korban," tulis mereka.

Menanggapi tudingan tersebut, PT Agincourt Resources (PTAR) menegaskan bahwa area operasi perusahaan berada di DAS Aek Pahu, berbeda dengan lokasi banjir di DAS Garoga/Aek Ngadol.

PTAR menambahkan, pemantauan tidak menemukan material kayu dari wilayah operasi mereka yang terkait dengan banjir.

Perusahaan menyatakan siap mendukung kajian pemerintah secara transparan.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru