BREAKING NEWS
Sabtu, 05 September 2026

Begini Penampakan Pulau Kalimantan yang Dirilis NASA, Diselimuti Asap Karhutla dan Ratusan Titik Panas Terlihat

Adelia Syafitri - Jumat, 04 September 2026 17:38 WIB
Begini Penampakan Pulau Kalimantan yang Dirilis NASA, Diselimuti Asap Karhutla dan Ratusan Titik Panas Terlihat
NASA merekam kepulan asap karhutla yang menyelimuti sebagian wilayah Indonesia, terutama Pulau Kalimantan hingga mencapai negara tetangga Malaysia. (foto: NASA)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit yang memperlihatkan kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Pulau Kalimantan.

Citra tersebut dipotret satelit Aqua pada Selasa, 1 September 2026, kemudian dirilis NASA melalui akun X pada Jumat, 4 September 2026.

Dalam citra itu, sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan tampak tertutup lapisan asap berwarna putih keabu-abuan.

Baca Juga:

Ratusan titik merah juga terlihat tersebar di sejumlah wilayah.

Titik merah tersebut menunjukkan anomali panas yang terdeteksi instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS yang berada di satelit Aqua.

Peneliti Columbia University sekaligus pengembang Global Fire Weather Database NASA, Robert Field, mengatakan tren peningkatan kebakaran saat ini mengkhawatirkan.

"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015," kata Field, sebagaimana dilansir situs web NASA.

Menurut Field, kondisi tersebut tidak terlepas dari fenomena iklim El Nino yang kuat pada tahun ini.

"El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan memperparah pembakaran—persis seperti yang kami perkirakan," papar Field.

NASA menyebut kebakaran di lahan gambut, termasuk di Kalimantan, menjadi salah satu jenis karhutla yang sulit ditangani.

Lahan gambut yang mengering dapat terbakar secara perlahan di bawah permukaan tanah dengan suhu rendah.

Dalam kondisi normal, gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api menyebar di bawah tanah.

Namun, kekeringan parah dapat mengubah kondisi tersebut dan membuat lahan gambut lebih mudah terbakar.

"Kebakaran di permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api mencapai bawah tanah, kebakaran itu tidak akan berhenti," ujar Field.

"Api akan terus membakar sampai hujan turun pada Oktober atau November," paparnya.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di Kalimantan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.

Enam provinsi menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Di Kalimantan Barat, tercatat 46 titik api dengan luas lahan terbakar lebih dari 528 hektare.

Kualitas udara di wilayah tersebut dilaporkan berada dalam kategori berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.

Sementara di Sumatera Selatan, terdapat 20 titik api dengan luas kebakaran mencapai 98,5 hektare.

Kualitas udara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat dengan jarak pandang sekitar 5 hingga 7 kilometer.

Di Pulau Sumatera, Riau menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah.

BPBD dan Pemadam Kebakaran Provinsi Riau mencatat luas karhutla sepanjang 2026 mencapai 18.582,90 hektare.

Jumlah titik panas yang tercatat mencapai 12.677 titik. Dari jumlah tersebut, 618 titik teridentifikasi sebagai titik api aktif.

Dampak karhutla juga mulai dirasakan masyarakat, terutama dari sisi kesehatan.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan sepanjang Juli hingga Agustus 2026.

Sebanyak 12.600 kasus di antaranya terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.

Sementara 38.291 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Asap karhutla dapat terbawa angin sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.

Wilayah yang tidak memiliki titik api juga dapat terdampak apabila asap terbawa angin ke daerah tersebut.

Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk ISPA.

Rilis citra satelit NASA tersebut kembali menunjukkan luasnya dampak karhutla di Kalimantan di tengah musim kemarau dan meningkatnya aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.* (km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gunung Sinabung Siaga Level 3, BPBD Sumut Pastikan Pengungsi dan Warga di Zona Merah Ditangani
Wapres Gibran Tinjau Rehabilitasi SMA Negeri 1 Barus, Bobby Nasution Minta Pembangunan Dipercepat
Wakil Wali Kota Medan Tegaskan Pendidikan Tak Boleh Lumpuh di Tengah Bencana, Sekolah Harus Aman dan Tangguh
Ratusan Hektare Lahan Terbakar, Gubernur Bobby Nasution Turun tangan Keluarkan Instruksi Darurat Siaga Bencana di Sumut
Sekolah Libur Karena Karhutla Tapi Siswa Tetap Diminta Ambil Makan Bergizi, Ini Alasan Tak Terduga Kepala BGN
Gerak Cepat Tinjau Sumut, Wapres Gibran Pastikan Pembangunan Huntara dan Infrastruktur Pascabencana Tepat Sasaran
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru