BREAKING NEWS
Kamis, 23 April 2026

Ekonom Celios Soroti Penurunan Tarif Ekspor RI ke AS: Peluang atau Ancaman?

- Rabu, 16 Juli 2025 10:52 WIB
Ekonom Celios Soroti Penurunan Tarif Ekspor RI ke AS: Peluang atau Ancaman?
Presiden AS Donald Trump umumkan kebijakan tarif impor baru pada April 2025. (foto: Euro News)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Kesepakatan penurunan tarif bea masuk Amerika Serikat (AS) terhadap produk ekspor Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen disambut dengan nada optimis sekaligus waspada oleh ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara.

Menurutnya, di balik peluang ekspansi ekspor, terdapat ancaman serius terhadap perekonomian domestik, khususnya sektor pangan dan industri strategis.

"Tarif 19 persen untuk produk ekspor Indonesia ke AS, sementara produk AS masuk ke Indonesia dengan fasilitas 0 persen, mengandung risiko yang cukup besar," ujar Bhima, Rabu (16/7/2025).

Produk unggulan Indonesia seperti alas kaki, karet, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan pakaian jadi memang diperkirakan akan mendapat angin segar di pasar AS.

Namun, Bhima menilai struktur perjanjian dagang ini dapat membuka celah bagi peningkatan impor besar-besaran dari AS ke pasar domestik.

Salah satu sektor yang paling berpotensi terdampak adalah pangan, terutama komoditas gandum.

Dengan tarif masuk 0 persen bagi gandum asal AS, harga bahan baku makanan seperti mi instan dan roti diperkirakan akan turun.

Namun hal ini berisiko menekan produsen lokal.

"Memang konsumen senang karena harga turun, tapi produsen lokal terpukul, dan ini mengganggu agenda swasembada pangan nasional," kata Bhima.

Bhima mengungkapkan, sepanjang 2024 nilai impor lima produk utama dari AS, migas, produk farmasi, serealia dan gandum, suku cadang pesawat, serta elektronik, telah mencapai USD 5,37 miliar atau sekitar Rp 87,3 triliun.

"Potensi lonjakan impor dari AS patut dicermati serius, karena ini bisa menggerus surplus neraca dagang kita," tegas Bhima.

Meski ada penurunan, Bhima menilai tarif 19 persen masih belum cukup kompetitif dibanding negara lain seperti Vietnam, yang mampu menurunkan tarif dari 46 persen menjadi 20 persen.

Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk terus melakukan negosiasi tarif yang lebih progresif.

"Idealnya Indonesia bisa menurunkan tarif lebih rendah lagi untuk memperkuat daya saing ekspor," jelasnya.

Diketahui, kesepakatan penurunan tarif ini merupakan hasil negosiasi langsung antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI Prabowo Subianto.

Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui platform Truth Social pada Selasa (15/7/2025).

"Kesepakatan luar biasa untuk semua pihak," tulis Trump.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen membeli energi dari AS senilai USD 15 miliar (sekitar Rp 244 triliun) dan produk agrikultur senilai USD 4,5 miliar (sekitar Rp 73 triliun).

Trump juga menyatakan bahwa jika produk dari negara ketiga masuk AS melalui Indonesia, maka tetap dikenakan tarif 19 persen.

Dengan semakin terbukanya pasar Indonesia bagi produk impor, Bhima mengingatkan pentingnya langkah antisipatif dan protektif dari pemerintah.

Ia menyarankan agar sektor strategis seperti pangan dan industri manufaktur diperkuat segera.

"Tanpa penguatan domestik, Indonesia berisiko terjebak pada ketergantungan impor yang membahayakan stabilitas jangka panjang," tutup Bhima.*

(km/a008)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru