-Tidak Relevan dengan Pendidikan Anak Gubernur BI 2013, Darmin Nasution, menilai perbedaan antara nilai uang dalam pembelajaran di sekolah dan di dunia nyata membingungkan anak-anak. "Di sekolah diajarkan 4+7=11, tapi harga barang Rp2.500," katanya waktu itu.
-Masalah di Sistem IT dan Akuntansi Banyaknya digit rupiah membuat sistem akuntansi dan perbankan sering bermasalah dalam mencatat angka triliunan rupiah.
BI menilai redenominasi akan membuat transaksi lebih cepat dan efisien secara teknologi.
Pemerintah menegaskan, redenominasi bukan pemotongan nilai uang (sanering).
Nilai tukar dan daya beli tidak akan berubah, hanya jumlah digit rupiah yang disederhanakan.
Contohnya, Rp1.000 akan menjadi Rp1, tetapi daya beli tetap sama — harga kopi Rp20.000 misalnya, akan menjadi Rp20 dalam mata uang baru.
Langkah ini diharapkan meningkatkan kredibilitas rupiah di mata internasional dan mempermudah transaksi lintas negara.*