Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Situasi tersebut dapat mendorong fenomena fly to quality, yaitu ketika investor memindahkan dana ke aset atau mata uang yang dianggap lebih aman.
Kenaikan harga minyak dan LPG global juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
"Pada saat yang bersamaan, BI masih mempertahankan BI rate dan mengandalkan operasi pasar, suku bunga SRBI dan diskon swap Rp/valas hingga 25 persen sebagai solusi," kata dia.
Menurut Wijayanto, keputusan BI mempertahankan BI rate dilakukan untuk menghindari tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap stabilitas nilai tukar.
Wijayanto juga menyoroti faktor domestik, termasuk persepsi investor terhadap kebijakan fiskal dan iklim investasi Indonesia.
Menurut dia, kondisi tersebut turut memengaruhi arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).
"Kombinasi faktor-faktor di atas membuat Rp melemah dan kembali menyentuh Rp 18.000 per dollar AS," imbuh Wijayanto.
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut dalam jangka menengah, bergantung pada arah kebijakan fiskal dan sektoral.
Wijayanto menilai APBN masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain terkait asumsi dan postur belanja.
Kebijakan sektoral juga dinilai perlu terus diarahkan untuk meningkatkan daya tarik investasi dan iklim usaha.
Untuk menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek, Wijayanto menyebut sejumlah pilihan kebijakan yang dapat ditempuh Bank Indonesia.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.