Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Selain itu, terdapat arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.
Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
BI melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," tegasnya.
BI juga terus melakukan koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," tuturnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI menyebut pergerakan mata uang Indonesia masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.
Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67 persen.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
Dengan demikian, pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS dipengaruhi oleh kombinasi tekanan global dan domestik.
Faktor tersebut antara lain kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi global, ekspektasi kebijakan moneter AS, kenaikan kebutuhan dolar importir, serta arus dana keluar dari aset negara berkembang.* (km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.