Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Untuk menahan agar rupiah tidak melemah terlalu jauh dari Rp 18.000 per dollar AS dalam jangka pendek, hal yang bisa dilakukan BI adalah menaikkan BI rate, operasi pasar yang lebih ekspansif dan menaikkan suku bunga SRBI," ujarnya.
Namun, menurut dia, kenaikan fasilitas swap rupiah/valas sebaiknya tidak menjadi pilihan utama karena berisiko membuat investor terlalu bergantung pada fasilitas tersebut.
Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah pada Selasa juga dipengaruhi faktor eksternal.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal masih memberikan tekanan.
"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal," kata Erwin.
Menurut Erwin, tekanan tersebut terjadi sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus lebih dari 108 dolar AS per barel.
Kondisi itu berlangsung di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
"Sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dollar AS per barrel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," jelasnya.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.
Hal itu tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang kembali mencapai 5,23 persen.
Level tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak 2007.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan valuta asing dari importir menjelang akhir kuartal III 2026.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.