BREAKING NEWS
Rabu, 30 September 2026

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Faktor Pemicunya

Administrator - Selasa, 29 September 2026 19:10 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Ungkap Faktor Pemicunya
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 29 September 2026.

Rupiah bahkan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS di pasar spot.

Mengacu data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.020 per dolar AS sekitar pukul 10.10 WIB.

Baca Juga:

Posisi tersebut melemah 42 poin atau 0,23 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah pada hari itu juga dilaporkan berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Bank Indonesia menyebut tekanan tersebut antara lain berasal dari kekhawatiran terhadap inflasi global, risiko fiskal, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Ekonom Senior Universitas Paramadina sekaligus praktisi kebijakan publik Wijayanto Samirin mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan internal.

Menurut dia, dunia saat ini menghadapi kondisi suku bunga yang relatif tinggi.

Kenaikan suku bunga acuan di Jepang dan AS kemudian diikuti sejumlah negara, termasuk negara-negara Eropa.

"Kenaikan suku bunga tersebut membuat nilai tukar mereka relatif menguat," ujarnya, Selasa (29/9/2026).

Selain kebijakan suku bunga, konflik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko geopolitik dan ekonomi global.

Situasi tersebut dapat mendorong fenomena fly to quality, yaitu ketika investor memindahkan dana ke aset atau mata uang yang dianggap lebih aman.

Kenaikan harga minyak dan LPG global juga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

"Pada saat yang bersamaan, BI masih mempertahankan BI rate dan mengandalkan operasi pasar, suku bunga SRBI dan diskon swap Rp/valas hingga 25 persen sebagai solusi," kata dia.

Menurut Wijayanto, keputusan BI mempertahankan BI rate dilakukan untuk menghindari tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap stabilitas nilai tukar.

Wijayanto juga menyoroti faktor domestik, termasuk persepsi investor terhadap kebijakan fiskal dan iklim investasi Indonesia.

Menurut dia, kondisi tersebut turut memengaruhi arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).

"Kombinasi faktor-faktor di atas membuat Rp melemah dan kembali menyentuh Rp 18.000 per dollar AS," imbuh Wijayanto.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut dalam jangka menengah, bergantung pada arah kebijakan fiskal dan sektoral.

Wijayanto menilai APBN masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain terkait asumsi dan postur belanja.

Kebijakan sektoral juga dinilai perlu terus diarahkan untuk meningkatkan daya tarik investasi dan iklim usaha.

Untuk menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek, Wijayanto menyebut sejumlah pilihan kebijakan yang dapat ditempuh Bank Indonesia.

"Untuk menahan agar rupiah tidak melemah terlalu jauh dari Rp 18.000 per dollar AS dalam jangka pendek, hal yang bisa dilakukan BI adalah menaikkan BI rate, operasi pasar yang lebih ekspansif dan menaikkan suku bunga SRBI," ujarnya.

Namun, menurut dia, kenaikan fasilitas swap rupiah/valas sebaiknya tidak menjadi pilihan utama karena berisiko membuat investor terlalu bergantung pada fasilitas tersebut.

Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah pada Selasa juga dipengaruhi faktor eksternal.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal masih memberikan tekanan.

"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal," kata Erwin.

Menurut Erwin, tekanan tersebut terjadi sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus lebih dari 108 dolar AS per barel.

Kondisi itu berlangsung di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

"Sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dollar AS per barrel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz," jelasnya.

Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Hal itu tercermin dari kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang kembali mencapai 5,23 persen.

Level tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak 2007.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan valuta asing dari importir menjelang akhir kuartal III 2026.

Selain itu, terdapat arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.

Bank Indonesia memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme pasar sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

BI melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," tegasnya.

BI juga terus melakukan koordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," tuturnya.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI menyebut pergerakan mata uang Indonesia masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.

Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67 persen.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Dengan demikian, pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS dipengaruhi oleh kombinasi tekanan global dan domestik.

Faktor tersebut antara lain kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi global, ekspektasi kebijakan moneter AS, kenaikan kebutuhan dolar importir, serta arus dana keluar dari aset negara berkembang.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bupati Asahan Buka FSQ 2026, 626 Peserta dari 25 Kecamatan Siap Berlomba
Misi Dagang Jatim-Sumut di Medan Tembus Rp2,5 Triliun, Bobby Nasution Dorong UMKM Naik Kelas
Ombudsman Temukan Jalur Belakang Lapas Cibinong Tak Berpagar dan Terhubung ke Permukiman Warga
Realisasi TKD Sumut Baru 17,55 Persen, Bobby Nasution Ungkap Penyebab Lambatnya Penyerapan
Bobby Nasution Dukung Pengusutan Dugaan Korupsi di PT PSU, Potensi Pendapatan Hilang Rp73,8 Miliar
Pemprov Sumut Dorong Revisi UU SPPN, Minta Perencanaan Pembangunan Pusat dan Daerah Disinkronkan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru