Sebaliknya, hantavirus dinilai gagal memenuhi karakteristik tersebut.
"Untuk hantavirus, penghalangnya adalah penularan antarmanusia yang efisien," kata Racaniello.
Direktur Mikrobiologi di Tufts Medical Center, Zoe Weiss, menilai kondisi pasien hantavirus yang cepat memburuk justru membatasi penyebaran virus.
"Pada saat mereka paling menular, mereka cenderung tidak bepergian atau berinteraksi secara sosial," ujarnya.
Sementara itu, profesor dari University of Montana, Angie Luis, mengatakan manusia sebenarnya bukan inang utama hantavirus.
Virus tersebut lebih beradaptasi untuk hidup dan menyebar di kalangan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Meski risiko pandemi dinilai rendah, para ahli tetap mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap kemungkinan mutasi virus di masa depan.
Profesor dari Stanford University, Marc Lipsitch, mengatakan hantavirus tetap perlu diawasi meskipun secara biologis memiliki keterbatasan untuk menular luas antarmanusia.
"Sangat sulit untuk menularkannya dari satu orang ke orang lain," kata Lipsitch.
Para ilmuwan menilai tanpa perubahan genetik besar, hantavirus kemungkinan besar tetap menjadi ancaman lokal yang mematikan namun terbatas, bukan pandemi global berikutnya.*