JAKARTA — Munculnya kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik memicu kekhawatiran publik setelah tiga orang dilaporkan meninggal dunia dalam kurun waktu tiga pekan terakhir.
Sedikitnya tujuh kasus hantavirus telah teridentifikasi di kapal pesiar tersebut, termasuk dua kasus yang telah terkonfirmasi positif.
Kapal diketahui berlabuh di lepas pantai Cape Verde atau Tanjung Verde.
Meski kasus itu menjadi sorotan internasional, para ahli epidemiologi menilai potensi hantavirus berkembang menjadi pandemi global masih sangat kecil.
Menurut peneliti senior Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh Adalja, ancaman pandemi lebih ditentukan oleh kemampuan penularan virus dibanding tingkat kematian.
"Potensi pandemi sebagian besar berkaitan dengan arsitektur penularan, bukan tingkat kematiannya," kata Adalja seperti dikutip dari Newsweek.
Hantavirus Andes yang ditemukan dalam kasus tersebut memang dikenal sebagai salah satu strain langka yang dapat menular antarmanusia.
Namun, virus ini dinilai tidak memiliki pola penyebaran seefektif influenza maupun COVID-19.
Ahli virologi Thomas G Ksiazek mengatakan hantavirus bukanlah virus baru dan sejauh ini tidak pernah berkembang menjadi epidemi global.
"Jika virus ini akan menjadi epidemi, itu pasti sudah terjadi sejak lama," ujarnya.
Para ahli menjelaskan, virus dengan tingkat kematian tinggi justru cenderung sulit menyebar luas karena pasien biasanya mengalami kondisi berat dalam waktu cepat sehingga mobilitas mereka terbatas.
Profesor mikrobiologi dan imunologi Columbia University, Vincent Racaniello, menyebut virus seperti influenza dan SARS-CoV-2 mampu menyebar cepat karena dapat menular sebelum gejala muncul.
Sebaliknya, hantavirus dinilai gagal memenuhi karakteristik tersebut.
"Untuk hantavirus, penghalangnya adalah penularan antarmanusia yang efisien," kata Racaniello.
Direktur Mikrobiologi di Tufts Medical Center, Zoe Weiss, menilai kondisi pasien hantavirus yang cepat memburuk justru membatasi penyebaran virus.
"Pada saat mereka paling menular, mereka cenderung tidak bepergian atau berinteraksi secara sosial," ujarnya.
Sementara itu, profesor dari University of Montana, Angie Luis, mengatakan manusia sebenarnya bukan inang utama hantavirus.
Virus tersebut lebih beradaptasi untuk hidup dan menyebar di kalangan hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Meski risiko pandemi dinilai rendah, para ahli tetap mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap kemungkinan mutasi virus di masa depan.
Profesor dari Stanford University, Marc Lipsitch, mengatakan hantavirus tetap perlu diawasi meskipun secara biologis memiliki keterbatasan untuk menular luas antarmanusia.
"Sangat sulit untuk menularkannya dari satu orang ke orang lain," kata Lipsitch.
Para ilmuwan menilai tanpa perubahan genetik besar, hantavirus kemungkinan besar tetap menjadi ancaman lokal yang mematikan namun terbatas, bukan pandemi global berikutnya.*
(km/ad)
Editor
: Dharma
Kasus Hantavirus Bertambah, Benarkah Bisa Jadi Pandemi Baru?