BREAKING NEWS
Kamis, 09 Juli 2026

WHO Peringatkan Kasus Kanker Dunia Bisa Tembus 35 Juta per Tahun pada 2050

Dharma - Kamis, 09 Juli 2026 17:14 WIB
WHO Peringatkan Kasus Kanker Dunia Bisa Tembus 35 Juta per Tahun pada 2050
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jumlah kasus kanker di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang jika upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan tidak diperkuat.

Dalam WHO Global Status Report on Cancer 2026 yang dirilis bersama International Agency for Research on Cancer (IARC) pada 8 Juli 2026, diperkirakan terdapat sekitar 20,6 juta kasus baru kanker dan hampir 10 juta kematian akibat kanker setiap tahun.

Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi hampir 35 juta kasus baru per tahun pada 2050, atau hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.

Baca Juga:

WHO menilai kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kanker memang terus berkembang.

Namun, manfaatnya belum dirasakan secara merata karena masih besarnya kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan di berbagai negara.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kanker kini bukan lagi penyakit yang hanya dialami sebagian kecil masyarakat.

Menurut WHO, sekitar 92 persen populasi dunia diperkirakan akan terdampak kanker, baik sebagai pasien maupun karena memiliki anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalaminya.

"Kanker adalah penyakit yang sangat personal dan menyentuh hampir semua orang. Namun, apakah seseorang dapat bertahan hidup seharusnya tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan atau besarnya pendapatan," kata Tedros.

Ia menegaskan ketimpangan dalam penanganan kanker bukan sesuatu yang tidak bisa diubah, melainkan persoalan kebijakan yang membutuhkan komitmen bersama.

WHO menemukan masih terdapat perbedaan yang cukup besar dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, hingga perawatan bagi pasien kanker di berbagai negara.

Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, Dr. Andre Ilbawi, mengatakan selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemajuan teknologi dan pengobatan kanker.

"Selama bertahun-tahun, kisah tentang kanker selalu berbicara mengenai kemajuan ilmiah, teknologi baru, pengobatan baru, dan harapan baru. Itu memang benar, tetapi bukan keseluruhan ceritanya," ujar Ilbawi.

Sebagai contoh, sekitar 87 persen perempuan penderita kanker payudara di negara berpendapatan tinggi masih bertahan hidup lima tahun setelah diagnosis.

Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, angka kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 42 persen.

WHO juga mencatat ketersediaan 20 obat kanker prioritas di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah hanya berkisar 9 hingga 54 persen, sedangkan di negara berpendapatan tinggi mencapai 68 hingga 94 persen.

Selain itu, kurang dari sepertiga negara di dunia telah memasukkan layanan kanker ke dalam paket Universal Health Coverage (UHC).

Di tengah meningkatnya jumlah kasus, WHO menegaskan bahwa hampir empat dari sepuluh kasus kanker sebenarnya dapat dicegah.

Beberapa faktor risiko yang paling banyak berkontribusi antara lain:

- Merokok atau penggunaan tembakau
- Konsumsi minuman beralkohol
- Kelebihan berat badan atau obesitas
- Kurang aktivitas fisik
- Pola makan tidak sehat
- Infeksi HPV
- Hepatitis B
- Hepatitis C
- Bakteri Helicobacter pylori

Direktur IARC, Dr. Elisabete Weiderpass, mengatakan pola penyakit kanker kini semakin dipengaruhi oleh meningkatnya obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan yang buruk, serta polusi udara.

"Profil kanker terus berubah dan semakin dipengaruhi oleh meningkatnya obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta polusi udara. Pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik," ujarnya.

WHO juga mencatat sejumlah perkembangan positif, seperti penurunan penggunaan tembakau secara global sebesar 27 persen sejak 2010, meningkatnya cakupan vaksinasi yang membantu mencegah kanker akibat infeksi, serta bertambahnya jumlah negara yang memiliki rencana nasional pengendalian kanker.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa pemerataan akses layanan kesehatan tetap menjadi tantangan utama agar lebih banyak pasien dapat memperoleh diagnosis lebih dini, pengobatan yang memadai, serta peluang hidup yang lebih baik.* (km/ad)

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
PMT untuk Kader Posyandu Desa Suka Maju, Bentuk Apresiasi Pemerintah Desa dalam Mendukung Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Martinijal Harahap Ajak Warga Medan Jadikan Hidup Sehat Sebagai Gaya Hidup, Bukan Sekadar Tren
Ketua TP PKK Asahan Dorong Posyandu Terapkan Enam Standar Pelayanan untuk Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Badan Gizi Nasional Kini Punya Peran Baru: Masuk Sistem Pertahanan Negara
RSUD Pirngadi Jadi Sorotan DPRD Medan, Mulai dari Pendapatan BLUD hingga Kekurangan Dokter Spesialis
RSJ Prof. Dr. M. Ildrem Kenalkan 23 Layanan Kesehatan di PRSU 2026, Ubah Stigma Rumah Sakit Jiwa
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru