JAKARTA – Proyek jalan tol baru yang menghubungkan Bogor dan Serpong melalui Parung resmi memasuki tahap penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).
Proyek strategis ini merupakan bagian dari jaringan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) III dan diharapkan menjadi solusi konektivitas antarwilayah di Jabodetabek.
Tol Bogor-Serpong via Parung akan dibangun oleh konsorsium PT Bogor Serpong Infra Selaras (BSIS) yang terdiri dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Hutama Karya Infrastruktur, dan PT Persada Utama Infra, anak usaha PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Wilan Oktavian, menyampaikan bahwa proyek ini telah melalui proses panjang sejak pengadaan dilakukan pada 2022.
"Proyek ini sudah melewati tahapan evaluasi teknis, finansial, dan legal secara komprehensif. Penandatanganan PPJT hari ini menandai dimulainya fase implementasi," ujar Wilan dalam acara penandatanganan PPJT dan perjanjian regres di Jakarta, Jumat (3/10/2025).
Tol ini akan memiliki panjang 32,2 kilometer, membentang di dua provinsi yaitu Jawa Barat (27,83 KM) dan Banten (4,2 KM).
Jalan tol ini akan menghubungkan persimpangan Selabenda di Bogor hingga persimpangan Serpong, melalui wilayah Parung.
Adapun jalur tol ini akan melintasi beberapa kecamatan strategis, yakni Kemang, Ciseeng, dan Rumpin di Kabupaten Bogor, serta sebagian wilayah Kabupaten Tangerang.
Dari sisi teknis, jalan tol dirancang memiliki: - 5 interchange - 2 junction - Kecepatan rancang 100 KM/jam - Lebar lajur 3,6 meter - Konfigurasi awal 2x2 lajur, dikembangkan menjadi 2x3 lajur di tahap akhir
Pembangunan Tol Bogor-Serpong via Parung akan menelan biaya sekitar Rp12,3 triliun dan menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan pendekatan build-operate-transfer (bangun-guna-serah).
Wildan menjelaskan, proyek ini akan dimulai dengan proses pengadaan lahan pada awal 2026, dengan target konstruksi dimulai Oktober 2026 dan rampung pada Agustus 2028.
"Insha Allah pengadaan lahan dimulai awal tahun 2026. Jika semua berjalan lancar, proyek bisa selesai pada Agustus 2028," tegas Wilan.