Dari sudut pandang kebijakan, keputusan pemerintah menaikkan hargaBBM nonsubsidi adalah langkah korektif sebagai sinyal terhadap perubahan pasar.
Di samping itu, kebijakan tersebut juga sering dihubungkan dengan upaya mendorong efisiensi konsumsi energi dalam negeri sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun, dalam realitas yang terjadi di masyarakat, perubahan hargaBBM selalu membawa efek ganda yang tak jarang menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat, khususnya di kalangan pelaku usaha.
Diketahui, kenaikan BBM nonsubsidi kerap menjadi faktor determinasi bagi pelaku usaha untuk menentukan harga barang dan jasa lainnya, sehingga dampaknya pun cukup meluas ke berbagai sektor.
Logika kenaikan BBM nonsubsidi, dengan demikian, harus dibaca dalam kerangka ekonomi global dan efisiensi fiskal yang memiliki konsekuensi serius, alih-alih sekadar langkah penyesuaian pasar.
Dampak Ekonomi
Telah disinggung di depan bahwa kenaikan hargaBBM membawa efek berantai yang cukup serius terhadap perekonomian, baik pada skala makro maupun mikro.
Pada level makro, dampak yang ditimbulkan salah satunya adalah meningkatnya tekanan inflasi.
Hal itu terjadi dikarenakan BBM merupakan komponen penting dalam hampir seluruh kegiatan ekonomi, khususnya di era sekarang yang sarat penggunaan teknologi tinggi.
Sehingga, perubahan hargaBBM dengan sendirinya akan mendorong peningkatan biaya transportasi dan rantai distribusi.
Situasi tersebut akhirnya berdampak terhadap kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan, yang pada titik tertentu dapat menekan daya beli masyarakat.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada sektor industri manufaktur, kenaikan BBM memiliki makna yang cukup penting, karena ia berkaitan dengan perubahan pada biaya produksi.