Khusus bagi industri yang bergantung pada energi dan distribusi, seperti logistik, makanan dan minuman, atau sektor konstruksi dan lainnya, akan merasakan dampak secara signifikan.
Hal itu terjadi lantaran biaya produksi meningkat drastis yang membuat pelaku usaha menghadapi dua pilihan dilematis, antara menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan.
Kedua opsi memang sama-sama mempunyai implikasi terhadap stabilitas bisnis dan keberlanjutan usaha. Sehingga, salah dalam mengambil langkah, bisa berakibat fatal.
Tidak hanya itu, kenaikan BBM juga berdampak serius terhadap masyarakat, utamanya kalangan menengah ke bawah.
Kenaikan biaya transportasi, meningkatnya harga kebutuhan pokok, dan mahalnya layanan publik secara tidak langsung mengurangi kemampuan konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, dalam perspektif ekonomi yang lebih luas, kenaikan BBM juga dapat secara langsung memengaruhi iklim investasi dalam negeri.
Bagi para investor, ketidakstabilan hargaenergi sering kali dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan keputusan bisnis.
Demikian, dalam situasi dan kondisi semacam ini, langkah kenaikan hargaBBM tidak cukup dengan alasan penyesuaian harga semata sebagai respons terhadap logika pasar, melainkan dipikirkan secara matang agar tidak membawa dampak yang lebih serius terhadap seluruh entitas dalam negeri.*