Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Namun problemnya, ekonomi Indonesia hari ini tidak pernah benar-benar terpisah dari dollar.
Petani desa memang tidak membeli barang dengan mata uang Amerika. Tetapi harga pupuk mereka dipengaruhi impor bahan baku global.
Harga BBM dipengaruhi geopolitik minyak dunia. Harga pakan ternak, obat-obatan, hingga ongkos logistik semuanya berkaitan dengan kurs dolar.
Bahkan kenaikan harga beras dan kebutuhan pokok di warung desa sering kali merupakan efek domino dari ekonomi global yang tak terlihat.
Karena itu, ketika seorang Presiden mengatakan "orang desa tidak pakai dollar," persoalannya bukan soal literal benar atau salah.
Persoalannya adalah reduksi realitas. Negara sedang menyederhanakan problem struktural menjadi psikologi massa.
Di sinilah populisme bekerja yakni bukan menjelaskan kerumitan, melainkan memproduksi rasa tenang.
Ernesto Laclau dalam On Populist Reason menyebut populisme sebagai praktik membangun "rantai ekuivalensi emosional" antara pemimpin dan rakyat (Laclau, 2005).
Rantai ekuivalensi adalah proses di mana beragam tuntutan yang berbeda-beda disatukan bukan karena memiliki esensi atau ideologi yang sama persis, melainkan karena adanya musuh atau masalah bersama.
Ernesto Laclau mengonseptualisasikan populisme bukan sebagai penyakit atau patologi politik, melainkan sebagai logika diskursif yang membentuk identitas politik.
Rantai ini membutuhkan sebuah penanda kosong (empty signifier) yang kuat secara emosional seperti tokoh karismatik, slogan tertentu, atau narasi besar untuk merepresentasikan seluruh keluhan kolektif.
Dalam hal ini penanda tersebut termanifestasi dalam diri seorang pemimpin yang ada Presiden.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.