BREAKING NEWS
Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran

Redaksi - Selasa, 25 Agustus 2026 08:21 WIB
Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. (foto: Dok. PDIP)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Aji Cahyono

PERNYATAAN Megawati Soekarnoputri pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026, menarik perhatian.

Dia menggunakan Iran sebagai contoh negara yang mampu bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat, sekaligus mengajak Indonesia membaca kembali arti persatuan dalam menghadapi perubahan geopolitik dunia.

Baca Juga:

Dalam pidatonya di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Megawati mempertanyakan mengapa Amerika Serikat yang disebutnya sebagai negara superpower belum mampu mengalahkan Iran, lalu mengarahkan perhatian kepada kekuatan persatuan bangsa Iran sebagai salah satu penjelasan penting atas ketahanan negara tersebut.

Pernyataan tersebut memperoleh bobot geopolitik jauh lebih besar karena disampaikan ketika perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung hampir enam bulan sejak serangan 28 Februari 2026.

Konflik tersebut merusak infrastruktur, mengganggu perdagangan, menimbulkan korban besar, serta memperluas dampaknya terhadap keamanan dan perekonomian kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan pada Agustus, meskipun Iran mengalami kerusakan serius pada infrastruktur dan kemampuan militernya, Teheran masih mempertahankan kemampuan rudal dan drone serta mampu mengganggu pelayaran energi melalui Selat Hormuz, sehingga konflik tersebut berkembang menjadi persoalan keamanan internasional dan ekonomi global.

Jika dibaca melalui perspektif hubungan internasional, pertanyaan Megawati menyentuh perdebatan klasik mengenai apakah kekuatan negara hanya dapat diukur melalui kemampuan material seperti kekuatan militer, ukuran ekonomi, teknologi, dan kapasitas industri, atau juga melalui kemampuan masyarakat mempertahankan kohesi politik ketika menghadapi tekanan eksternal.

Iran memberikan contoh yang kompleks karena negara tersebut secara ekonomi jauh lebih kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Namun, memiliki populasi sekitar 92,4 juta jiwa, produk domestik bruto sekitar Rp 362,7 miliar dolar AS pada 2025, serta pengalaman panjang menghadapi sanksi, tekanan diplomatik, konflik bersenjata, dan isolasi internasional.

Karena itu, makna utama pernyataan Megawati tidak tepat apabila dipersempit menjadi dukungan terhadap Iran atau penolakan terhadap Amerika Serikat.

Struktur argumentasinya justru mengarah pada pertanyaan mengenai bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kemampuan menentukan nasibnya sendiri ketika berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gemuruh Semangat Tanah Gayo Ribuan Warga Bener Meriah Gelar Apel Kebangsaan Teguhkan Komitmen NKRI
Darurat Kekeringan El Nino Mengamuk, Sebagian Besar Jawa Masuk Kategori Awas
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
Bukan Sengaja 'Diekspor', BMKG Ungkap Angin Musiman Jadi Biang Keladi Asap Kalimantan Menggeliat ke Negara Tetangga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru