BREAKING NEWS
Senin, 12 Oktober 2026

Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran

Redaksi - Selasa, 25 Agustus 2026 08:21 WIB
Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. (foto: Dok. PDIP)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Iran ditempatkan sebagai studi pembanding untuk Indonesia, terutama mengenai hubungan antara persatuan nasional, ketahanan negara, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan kemampuan mempertahankan kepentingan nasional di tengah kompetisi kekuatan besar.

Persatuan sebagai Infrastruktur Kedaulatan

Dalam kerangka pemikiran tersebut, persatuan yang disebut Megawati bukan hanya persoalan moral atau slogan politik, melainkan dapat dipahami sebagai sumber daya strategis yang menentukan kemampuan negara menghadapi tekanan geopolitik.

Negara dengan persenjataan canggih dan sumber daya ekonomi besar tetap dapat menjadi rentan apabila mengalami fragmentasi sosial dan politik.

Sedangkan negara yang menghadapi keterbatasan material dapat mempertahankan daya tahannya apabila memiliki institusi yang kuat, identitas nasional yang kokoh, kapasitas pertahanan memadai, dan masyarakat yang memiliki tingkat kohesi tertentu.

Pengalaman Iran sepanjang 2026 menunjukkan, ketahanan tersebut tidak dapat dijelaskan oleh persatuan saja karena terdapat kombinasi antara geografi, kemampuan rudal, jaringan regional, struktur keamanan, pengalaman perang, kapasitas industri pertahanan, serta posisi strategis Iran di sekitar Teluk Persia.

Selat Hormuz menjadi salah satu sumber leverage terpenting karena sebelum konflik mengganggu pelayaran.

Jalur tersebut membawa rata-rata 20,9 juta barel minyak dan produk petroleum per hari pada paruh pertama 2025, setara dengan sekitar seperlima konsumsi petroleum global, sementara 89 persen minyak mentah dan kondensat yang melintasinya menuju pasar Asia.

Dampak strategis posisi geografis tersebut semakin terlihat pada 2026 ketika aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari rata-rata 21,6 juta barel per hari pada kuartal keempat 2025 menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026.

Gangguan lokal berubah menjadi persoalan energi global yang memengaruhi harga minyak, inflasi, transportasi, dan stabilitas ekonomi banyak negara.

Badan Informasi Energi Amerika Serikat memperkirakan gangguan tersebut telah menyebabkan penurunan persediaan minyak global yang besar dan membuat harga Brent diproyeksikan tetap tinggi sebelum arus energi melalui Hormuz kembali normal.

Namun, ketahanan Iran juga memiliki paradoks harus diperhitungkan agar pembacaan terhadap pernyataan Megawati tidak berubah menjadi romantisasi terhadap suatu negara yang sedang berperang. Kemampuan bertahan dari tekanan eksternal tidak selalu berarti masyarakat terbebas dari penderitaan ekonomi dan sosial.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gemuruh Semangat Tanah Gayo Ribuan Warga Bener Meriah Gelar Apel Kebangsaan Teguhkan Komitmen NKRI
Darurat Kekeringan El Nino Mengamuk, Sebagian Besar Jawa Masuk Kategori Awas
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
Bukan Sengaja 'Diekspor', BMKG Ungkap Angin Musiman Jadi Biang Keladi Asap Kalimantan Menggeliat ke Negara Tetangga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru