BREAKING NEWS
Selasa, 13 Januari 2026

Banjir dan Longsor Menyapu 536 Hektare Sawah di Tapsel, Petani Kehilangan Mata Pencaharian

Mora Siregar - Sabtu, 10 Januari 2026 14:37 WIB
Banjir dan Longsor Menyapu 536 Hektare Sawah di Tapsel, Petani Kehilangan Mata Pencaharian
Banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan sawah-sawah, meninggalkan tumpukan lumpur, pasir, batu, dan kayu gelondongan yang menenggelamkan harapan musim tanam awal 2026. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TAPANULI SELATAN ,SUMATERA UTARAHujan deras yang melanda wilayah Tapanuli Selatan pada akhir November 2025 membawa bencana tak terduga bagi para petani.

Banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan sawah-sawah, meninggalkan tumpukan lumpur, pasir, batu, dan kayu gelondongan yang menenggelamkan harapan musim tanam awal 2026.

Di Sipirok, Kecamatan yang terdampak paling luas, sawah yang semula menjadi sumber kehidupan kini tak bisa lagi ditanami.

Baca Juga:

Bahkan bendungan dan saluran irigasi di berbagai titik ikut rusak parah, memperparah krisis pertanian di daerah itu.

"Ini bukan cuma soal padi hilang, tapi sumber penghidupan kami," kata salah seorang warga yang terdampak. "Kalau sawah tidak bisa ditanami, bagaimana kami bertahan hidup?"

Dampak banjir bandang tidak hanya terasa di Sipirok.

Kecamatan Sayur Matinggi, Batang Angkola, Angkola Muaratais, dan Batangtoru juga mengalami kerusakan signifikan.

Total luas sawah terdampak mencapai 536 hektare di 36 desa dan kelurahan, dengan Sipirok mencatat wilayah terparah, sekitar 249 hektare.

Plt Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Selatan, Taufik Batubara, menyebut keterbatasan pemerintah daerah dalam penanganan pascabanjir.

"Untuk pengerukan material banjir dibutuhkan alat berat, dan kami tidak punya. Saat ini, kami hanya bisa melaporkan ke Kementerian Pertanian. Mereka sudah turun langsung meninjau," ujarnya.

Meski demikian, semangat warga tetap menyala.

Wajah lelah namun tegar, para petani berharap sawah bisa kembali hijau dan musim tanam tetap bisa dijalankan.

Bagi ribuan petani Tapanuli Selatan, ini bukan sekadar soal padi yang hilang, melainkan perjuangan mempertahankan hidup.

Pemerintah pusat bersama dinas terkait kini menjadi harapan utama untuk pemulihan, sementara warga terus menunggu kepastian bantuan agar bumi Tapanuli Selatan kembali menari di bawah sinar matahari.*

(dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Hendri Yanto Sitorus Dinilai Berpeluang Pimpin Golkar Sumatera Utara
Polres Labusel Gagalkan Peredaran 26 Kg Ganja, Kurir Ditembak Saat Melarikan Diri
Energi Masa Depan: LPG Diganti Dimethyl Ether dari Batu Bara
SELAMATKAN ANAK KITA! JAJANAN BERBAHAYA DIDUGA BEREDAR BEBAS DI BATU BARA, ORANG TUA DESAK RAZIA SEGERA!
Bupati Labusel Resmikan Pembangunan RSU Nur’Aini Bloksongo, Janji Layanan Kesehatan Berkualitas
Heboh! Tanah di Sumbar Ambles, Pakar UGM Ungkap Penyebabnya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru