BREAKING NEWS
Senin, 25 Mei 2026

Petani Tebu Teriak! HPP Gula Tak Naik 3 Tahun, Harga Pupuk Naik Dua Kali Lipat

Dharma - Senin, 25 Mei 2026 18:28 WIB
Petani Tebu Teriak! HPP Gula Tak Naik 3 Tahun, Harga Pupuk Naik Dua Kali Lipat
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendesak pemerintah segera merevisi harga pokok penjualan (HPP) gula petani yang dinilai sudah tidak lagi sejalan dengan kenaikan biaya produksi di lapangan.

Lonjakan harga pupuk non-subsidi serta dampak ketegangan geopolitik global disebut menjadi pemicu utama meningkatnya beban produksi petani tebu.

Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan, kenaikan harga pupuk dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari gejolak ekonomi global, termasuk konflik di Timur Tengah yang ikut memicu penguatan dolar Amerika Serikat.

Baca Juga:

"Biaya dampak perang di Timur Tengah ini mohon maaf dolarnya naik gitu banyak, akibatnya kepada kita. Harga pupuk sekarang ini Rp9.000 per kilogram non-subsidi dan bisa lebih," kata Soemitro dalam Rakernas APTRI di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, pada awal 2025 harga pupuk ZA Plus non-subsidi masih berada di kisaran Rp4.300 per kilogram.

Namun kini melonjak hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp8.600 hingga Rp9.000 per kilogram.

Sementara pupuk subsidi yang diterima petani sangat terbatas, hanya cukup untuk sebagian kecil lahan.

"Kami hanya mendapatkan pupuk subsidi untuk luas areal sekitar 2 hektare, itu pun hanya sekitar 108 kilogram ZA subsidi. Selebihnya kami harus pakai pupuk non-subsidi," ujarnya.

Selain pupuk ZA, petani juga harus membeli pupuk lain seperti NPK, Phonska, dan SP36, yang seluruhnya mengalami kenaikan harga.

Kondisi ini membuat struktur biaya produksi tebu meningkat tajam, sementara HPP gula petani tidak berubah dalam tiga musim giling terakhir.

"Ini sudah tidak rasional dan tidak adil," kata Soemitro.

APTRI mengusulkan agar HPP gula petani dinaikkan ke kisaran Rp15.000–Rp15.500 per kilogram.

Namun mereka juga meminta agar Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen dievaluasi atau dihapus agar harga di pasar lebih fleksibel.

Menurut Soemitro, secara historis harga gula ideal berada pada kisaran 1,5 kali harga beras.

Dengan asumsi harga beras Rp12.500 per kilogram, maka harga gula seharusnya berada di sekitar Rp18.000 per kilogram.

Sekretaris Jenderal APTRI M. Nur Khabsyin menambahkan, kenaikan biaya produksi tidak hanya berasal dari pupuk, tetapi juga BBM, transportasi, hingga upah tenaga kerja.

Namun HPP gula sebesar Rp14.500 per kilogram tidak berubah sejak 2024.

"Kita sudah tiga musim giling ini HPP tidak naik. Ini sangat tidak rasional karena semua biaya naik," ujarnya.

Ia menyebut, pupuk kini menyumbang sekitar 15–20 persen dari total biaya produksi tebu.

Dalam kondisi saat ini, biaya garap lahan 1 hektare bisa mencapai sekitar Rp50 juta, dengan pupuk sebagai komponen utama.

APTRI pun mendesak pemerintah segera melakukan penyesuaian kebijakan agar keberlanjutan produksi gula nasional tetap terjaga di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.*


(cb/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pemerintah Siapkan 11.512 Proyek Rehabilitasi Pascabencana di Sumatera, Anggaran Tembus Rp100,1 Triliun
Blackout Sumatera Utara Pulih 100 Persen, Bobby Nasution Minta Evaluasi Dampak Ekonomi
Pemko Medan Terima Sapi Kurban Presiden Prabowo Seberat 1 Ton, Siap Disembelih di Belawan
Blackout 27 Jam di Sumbagut Picu Kerugian Ekonomi dan Korban Jiwa, Publik Desak PLN Bertanggung Jawab
Pemko Tanjungbalai Gelar Perpisahan untuk Asisten Administrasi dan Umum, Plh Wali Kota Sampaikan Apresiasi
2.886 Pohon Ditebang untuk Proyek BRT Mebidang, Rico Waas: Akan Diganti dengan 61 Ribu Pohon
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru