Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA — Pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menyebut Jusuf Kalla sebagai senior, mentor, dan idola dinilai mencerminkan kedewasaan dalam berkomunikasi politik.
Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Nusakom Pratama Institute, Ari Junaedi, mengatakan sikap Gibran menunjukkan kemampuan meredam tensi politik di tengah dinamika nasional yang memanas.
"Gibran tidak terpancing dengan pertanyaan yang berpotensi memperuncing suasana. Ini menunjukkan kematangan dalam pola komunikasi politik," ujar Ari, Sabtu, 25 April 2026.
Baca Juga:
Menurut Ari, gaya komunikasi tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya tekanan publik akibat berbagai isu, mulai dari kenaikan harga energi hingga dinamika geopolitik global.
Ia menilai Gibran berupaya menjaga stabilitas persepsi publik melalui pendekatan yang lebih tenang dan inklusif.
Ari juga mengaitkan langkah Gibran dengan teori "spiral of silence" yang diperkenalkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann.
Dalam konteks ini, Gibran dinilai berupaya memecah dominasi opini publik yang berkembang terhadap dirinya dan keluarganya.
Pernyataan Gibran tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap pernyataan Jusuf Kalla terkait peranannya dalam mendorong Joko Widodo menjadi Presiden ke-7 RI.
JK sebelumnya menyebut dirinya sebagai pihak yang mengusulkan nama Jokowi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta.
Menanggapi hal itu, Gibran memilih memberikan pernyataan yang bernada apresiatif.
Dalam kunjungannya ke Papua Barat Daya, ia menyebut Jusuf Kalla sebagai sosok berpengalaman yang memiliki kontribusi besar bagi bangsa, khususnya dalam penyelesaian konflik di berbagai daerah.
"Pak JK itu senior saya, mentor, dan idola saya. Beliau punya banyak kontribusi untuk negeri ini," kata Gibran.
Ia juga menyatakan terbuka terhadap berbagai masukan dan evaluasi yang diberikan oleh mantan wakil presiden tersebut.
Pengamat menilai pendekatan komunikasi seperti ini berpotensi meredakan polarisasi politik, sekaligus memperkuat citra kepemimpinan yang lebih stabil di mata publik.*
(at/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.