JAKARTA — Dalam ajaran Islam, setiap amal kebaikan seperti ibadah, sedekah, dan perbuatan baik akan dicatat sebagai pahala yang kelak menjadi penolong di akhirat.
Namun, sejumlah ulama mengingatkan bahwa tidak semua amal kebaikan akan tetap utuh apabila disertai dengan dosa-dosa tertentu yang dapat menghapus nilainya.
Peringatan ini merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 103-104 yang menggambarkan orang-orang yang merasa telah berbuat baik, namun sebenarnya amalnya menjadi sia-sia.
Mengutip buku Yang Bangkrut dan Yang Untung di Alam Kubur karya Al-Hafizh Taqiyuddin al-Jurjani, terdapat sejumlah dosa yang dapat menghapus pahalaamal kebaikan seorang muslim.
Pertama adalah riya' atau pamer dalam beribadah. Riya terjadi ketika seseorang melakukan amal bukan semata-mata karena Allah SWT, melainkan untuk mendapatkan pujian manusia.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut riya sebagai syirik kecil yang sangat dikhawatirkan karena dapat menghapus nilai amalibadah.
Kedua, mengungkit-ungkit pemberian, terutama dalam sedekah. Perbuatan ini dinilai dapat merusak keikhlasan dan menggugurkan pahala.
Al-Qur'an dalam Surah Al-Furqan ayat 23 menyebut amal yang tidak ikhlas akan diibaratkan seperti debu yang beterbangan.
Ketiga adalah hasad atau iri hati terhadap nikmat orang lain.
Dalam Surah An-Nisa ayat 32, Allah SWT melarang umatnya menginginkan kelebihan yang dimiliki orang lain, karena setiap manusia telah ditetapkan bagiannya masing-masing.
Keempat, ghibah atau menggunjing. Perbuatan ini, meskipun berdasarkan fakta, tetap dilarang karena merusak kehormatan orang lain.
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud, pelaku ghibah digambarkan sebagai orang yang mencakar wajah dan dada mereka sendiri di akhirat.