Zulhas menyebut, keberadaan KopdesMerah Putih akan menjadi penghubung utama antara petani, nelayan, hingga pasar dan lembaga keuangan, sehingga distribusi hasil produksi desa bisa lebih efisien dan terjamin.
"Begitu 30 ribu unit selesai tahun ini, maka koperasi itu harus bisa sebagai off-taker," kata Zulhas usai rapat koordinasi di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, Kopdes akan berfungsi menyerap hasil produksi petani seperti gabah dan jagung apabila harga di pasar turun di bawah ketetapan pemerintah. Selanjutnya, hasil tersebut akan disalurkan ke Bulog melalui jaringan koperasi desa.
Menurutnya, keberadaan kendaraan operasional seperti truk atau pikap di Kopdes juga akan menunjang distribusi hasil panen dari desa ke pusat pengolahan atau penyimpanan.
"Itulah gunanya truk atau pikap di Kopdes, untuk mengangkut gabah, jagung dari desa," ujarnya.
Selain sebagai offtaker hasil pertanian, Zulhas menyebut KopdesMerah Putih juga akan berperan dalam berbagai sektor ekonomi desa, seperti perikanan, distribusi pupuk, agen LPG, hingga penyalur bantuan sosial pemerintah.
Ia menegaskan, sistem ini dirancang agar petani dan nelayan dapat lebih tenang dalam berproduksi karena harga hasil panen dijamin oleh mekanisme pemerintah melalui koperasi.
Di sisi lain, Kopdes juga akan terintegrasi dengan layanan keuangan melalui kerja sama dengan perbankan, seperti BRILink dan BNI Link, serta menyediakan akses pembiayaan dengan bunga rendah sekitar 6 persen.
Zulhas juga memastikan penyaluran bantuan sosial seperti beras 10 kilogram dan Program Keluarga Harapan (PKH) akan disalurkan melalui Kopdes agar lebih tepat sasaran.
"Dari pusat dikirim ke Kopdes, lalu Kopdes menyalurkan kepada masyarakat agar tepat sasaran," jelasnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan 30 ribu KopdesMerah Putih rampung pada pertengahan 2026, sekaligus menyiapkan 30 ribu manajer koperasi untuk memastikan pengelolaan berjalan profesional dan modern.*