JAKARTA - Sidang gugatan perdata terkait ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa, 5 Mei 2026, memunculkan perkembangan baru.
Gugatan diajukan oleh Sigit Pratama, alumnus Fakultas Hukum UGM, dengan tiga pihak sebagai tergugat, yakni Joko Widodo, Polda Metro Jaya, dan Rektor UGM.
Kuasa hukum penggugat, Dekka Ajeng, menyatakan pihaknya tidak lagi mempersoalkan keaslian ijazahJokowi sebagai lulusan Fakultas Kehutanan UGM.
Namun, ia menilai ada persoalan pada status fisik dokumen yang disebut telah disita oleh penyidik.
"Secara normatifnya memang ijazah Pak Jokowi itu asli. Hanya yang menjadi problem saat ini, ijazah yang dikuasai Pak Jokowi dan kemudian disita oleh Polda Metro Jaya itu yang kita belum paham asli ataukah tidak asli," kata Ajeng usai persidangan.
Menurut dia, keterlibatan Polda Metro Jaya dalam gugatan ini berkaitan dengan penyitaan dokumen tersebut dalam proses penanganan perkara sebelumnya.
Penggugat menilai keberadaan fisik ijazah menjadi bagian penting dalam perkara perdata yang diajukan.
Ajeng juga menyoroti tidak adanya penunjukan ijazah oleh Jokowi dalam sejumlah proses hukum sebelumnya, termasuk dalam persidangan maupun ruang publik.
"Secara prinsipal, kami melayangkan gugatan ini ke PN, karena kami ingin turut berkontribusi agar Pak Jokowi itu lebih leluasa menunjukkan ijazahnya di hadapan publik," ujarnya.
Ia menambahkan, ketidakhadiran Jokowi dalam sejumlah sidang perkara serupa sejak 2022 hingga 2025 turut menjadi alasan pengajuan gugatan ini.
Dari pihak Jokowi, kuasa hukum YB Irpan menyebut kliennya merespons perkara ini dengan sikap biasa. Ia menilai gugatan kali ini lebih "santun" dibanding perkara sebelumnya.