MEDAN – Aroma tak sedap kembali berembus dari lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah I Sumatera Utara.
Belum reda sorotan publik terkait karut-marut tata kelola program bantuan pendidikan, institusi di bawah naungan Kemendikbudristek ini kini dihantam isu rasuah.
Seorang pejabat internal berinisial AS diduga terlibat dalam penggelembungan anggaran (mark-up) sejumlah proyek fisik di lingkungan kantor tersebut.
Berdasarkan dokumen laporan pengaduan masyarakat, dugaan manipulasi anggaran ini menyasar tiga paket proyek renovasi fasilitas kantor yang dinilai tidak wajar.
Ketiganya adalah proyek renovasi ruang podcast Hubungan Masyarakat (Humas), renovasi musala, serta penataan area parkir kantor.
Sumber yang mengetahui jalannya proyek tersebut membisikkan bahwa realisasi anggaran di lapangan disinyalir jauh melampaui harga pasar normal.
Akibat pembengkakan nilai proyek yang tidak rasional ini, negara diperkirakan mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Siasat Konsultan di Balik Layar
Satu hal yang menarik perhatian adalah munculnya manuver baru pasca-mencuatnya kasus ini ke publik.
Pejabat AS disinyalir tidak bermain sendiri.
Demi mengamankan posisinya dari endusan aparat penegak hukum (APH), ia diduga kuat tengah berupaya menyewa jasa konsultan anggaran eksternal.
Langkah ini disebut-sebut sebagai "skenario penyelamatan" atau strategi mitigasi untuk merapikan dan memoles kembali laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan.