Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jumlah kasus kanker di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang jika upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan tidak diperkuat.
Dalam WHO Global Status Report on Cancer 2026 yang dirilis bersama International Agency for Research on Cancer (IARC) pada 8 Juli 2026, diperkirakan terdapat sekitar 20,6 juta kasus baru kanker dan hampir 10 juta kematian akibat kanker setiap tahun.
Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi hampir 35 juta kasus baru per tahun pada 2050, atau hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.
Baca Juga:
WHO menilai kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kanker memang terus berkembang.
Namun, manfaatnya belum dirasakan secara merata karena masih besarnya kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan di berbagai negara.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan kanker kini bukan lagi penyakit yang hanya dialami sebagian kecil masyarakat.
Menurut WHO, sekitar 92 persen populasi dunia diperkirakan akan terdampak kanker, baik sebagai pasien maupun karena memiliki anggota keluarga atau orang terdekat yang mengalaminya.
"Kanker adalah penyakit yang sangat personal dan menyentuh hampir semua orang. Namun, apakah seseorang dapat bertahan hidup seharusnya tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan atau besarnya pendapatan," kata Tedros.
Ia menegaskan ketimpangan dalam penanganan kanker bukan sesuatu yang tidak bisa diubah, melainkan persoalan kebijakan yang membutuhkan komitmen bersama.
WHO menemukan masih terdapat perbedaan yang cukup besar dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis, pengobatan, hingga perawatan bagi pasien kanker di berbagai negara.
Ketua Tim Pengendalian Kanker WHO, Dr. Andre Ilbawi, mengatakan selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemajuan teknologi dan pengobatan kanker.
"Selama bertahun-tahun, kisah tentang kanker selalu berbicara mengenai kemajuan ilmiah, teknologi baru, pengobatan baru, dan harapan baru. Itu memang benar, tetapi bukan keseluruhan ceritanya," ujar Ilbawi.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.