BREAKING NEWS
Selasa, 29 September 2026

Kabinet Bayangan dan Penyehatan Demokrasi

Redaksi - Selasa, 11 Agustus 2026 08:19 WIB
Kabinet Bayangan dan Penyehatan Demokrasi
15 anggota Kabinet Bayangan. (foto: kabinetbayangan.id/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Mohammad Isa Gautama

TERBENTUKNYA Kabinet Bayangan (KB) yang diinisiasi Koalisi Masyarakat Sipil layak dibaca sebagai gerakan sosial-politik yang mencerahkan.

Di tengah semakin pupusnya harapan akan hadirnya peran check and balances dari cabang-cabang kekuasaan negara, gerbong kabinet yang cenderung mubazir dan keras kepala, kritik publik bagai semburan kembang api yang cepat padam, lima belas akademisi, peneliti, aktivis, dan profesional turun gunung selaku menteri bayangan.

Baca Juga:

Mereka berniat mengawasi kinerja pemerintah sembari menawarkan koreksi kebijakan.

Kehadiran mereka merupakan peristiwa politik sekaligus eksperimen komunikasi publik yang signifikan dalam menandai pencarian saluran aspirasi alternatif di luar institusi formal.

Dalam konteks itu, pilihan nama "kabinet bayangan" merupakan langkah simbolik cerdas.

Murray Edelman, dalam The Symbolic Uses of Politics (1964), mengingatkan bahwa politik bekerja bukan hanya melalui keputusan, melainkan juga melalui simbol yang membentuk cara publik memahami kenyataan.

Dengan mengadaptasi nomenklatur kabinet, Kabinet Bayangan menghadirkan lawan tanding yang mudah dikenali: menteri berhadapan dengan menteri bayangan, kebijakan resmi diuji oleh kebijakan aspiratif.

Bahasa kekuasaan dipinjam untuk mengawasi kekuasaan, sekaligus mengirim pesan bahwa kewenangan resmi tidak selalu identik dengan amanat publik.

Lebih jauh, menurut konsep framing Entman (1993), strategi tersebut mendefinisikan masalah, menunjuk penyebab, memberikan penilaian moral, dan menawarkan penyelesaian.

Akar masalahnya ialah melemahnya pengawasan; penyebabnya dominasi koalisi pemerintahan dan ketidakberdayaan oposisi; solusinya kontrol masyarakat sipil berbasis bukti, dengan aspirasi rakyat dipertaruhkan sebagai dasar legitimasi.

Kabinet Bayangan secara tak langsung juga menjalankan agenda-setting McCombs dan Shaw (1972): bukan menentukan pikiran warga, melainkan isu yang patut dipikirkan bersama.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bappisus Kejar Riza Chalid! Red Notice Terbit, Ekstradisi Terus Diproses
Anggaran Rp18,9 Triliun Digelontorkan ke 546 Daerah, Mendagri Tito Ungkap Tujuannya
BI Rate Naik 5,75 Persen Bikin Debitur KPR Ketar-ketir, BI Sumut Pastikan Efeknya Nggak Instan
Jelang 17 Agustus, Pemerintah Pastikan Keamanan Nasional Tetap Terkendali
Pemda Kesulitan Bayar Gaji PPPK, Pemerintah Kucurkan Rp 19 Triliun
Ojol Diwacanakan Jadi UMKM, Pemerintah Ungkap Segudang Keuntungannya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru