Pasca-isu awal yang menyebut FN sebagai korban bullying, kepolisian menegaskan bahwa terduga pelaku tidak mengalami perundungan di sekolah.
Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imannudin, menyatakan bahwa FN melakukan aksi ledakan karena merasa kesepian dan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
"Dorongan yang bersangkutan melakukan peristiwa hukum ini karena merasa sendiri," ujar Iman.
Penemuan di TKP juga menunjukkan adanya senjata mainan (airsoft gun) berwarna hitam di dekat FN.
Senjata tersebut tertulis nama-nama tokoh kriminal dunia, yang menurut Jubir Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, hanyalah hasil peniruan atau copycat dari kasus di luar negeri, bukan indikasi keterkaitan dengan terorisme.
"Ini murni tindakan kriminal umum, bukan pidana terorisme," tegas Mayndra.
Keterangan teman sekelas terduga pelaku juga memperkuat bahwa FN bukan korban bullying.
Menurut Putra, kakak salah satu korban ledakan, FN dulunya sosok ceria dan pandai bersosialisasi.
Namun setelah mengalami kecelakaan sepeda motor pada 2024, FN menjadi pendiam, menyendiri, dan mulai cuek terhadap lingkungan sekitarnya.
Putra menambahkan, jika aksi FN dipicu perundungan, sasaran biasanya akan bersifat personal.
Namun FN justru meledakkan bom di masjid dan lingkungan sekolah, sehingga dampaknya meluas dan menimpa banyak siswa dan guru.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena menguak pergeseran perilaku siswa pasca-trauma dan isolasi sosial, serta menegaskan pentingnya pemahaman kesehatan mental remaja.*