Kejagung Sita 104,4 Ton Timah Milik Terpidana Aon, Negara Bersiap Lelang Aset
JAKARTA Kejaksaan Agung menyita lebih dari 104 ton komoditas timah milik terpidana Tamron alias Aon dalam perkara korupsi dan tindak pid
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA -Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan terkait situasi politik dan hukum di Indonesia. Dalam sambutannya, Megawati mengungkapkan kekhawatirannya mengenai aturan-aturan yang dinilai tidak lagi berpihak pada kepentingan rakyat, melainkan lebih untuk melayani nafsu kekuasaan.
Megawati mengkritik adanya kecenderungan dalam pembuatan peraturan yang tampak hanya untuk mengakomodasi kepentingan kekuasaan semata. “Saya tahu persis apa yang sedang terjadi saat ini. Saya pernah menjadi presiden, wakil presiden, jadi jangan main-main sama saya ya. Levelnya kita sama lho,” ungkap Megawati dengan nada tegas. Meskipun tidak menyebutkan secara eksplisit siapa yang dimaksud, pernyataan ini menunjukkan ketidakpuasan mendalam Megawati terhadap situasi politik saat ini.
Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga menegaskan bahwa dia tidak berniat untuk bertindak sebagai provokator, melainkan menyampaikan kekhawatirannya mengenai keadilan dalam pembuatan dan pelaksanaan aturan. Kritikannya ini muncul di tengah perayaan HUT ke-79 RI yang dihadiri oleh Megawati di Halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada 17 Agustus 2024.
Megawati merasa dianaktirikan dan menilai bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai yang dipimpinnya, saat ini diperlakukan seolah bukan bagian dari warga negara Indonesia oleh penguasa. Hal ini disorot oleh Megawati melalui pertanyaan retorisnya: “Kok ada peraturan tanpa pasal?” Ungkapan ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap kualitas dan transparansi peraturan yang diterapkan.
Lebih jauh, Megawati menyampaikan rasa frustrasinya terkait perbedaan perlakuan yang diterimanya meskipun secara formal kedudukannya setara. Dia mengungkapkan, “Sekarang saya kedudukannya sama tapi dibuat tidak sama. Kadang malam saya kontemplasi, apa lebih baik saya berontak kah atau lebih baik diam saja.” Pernyataan ini menunjukkan dilema yang dihadapi Megawati dalam merespons ketidakadilan yang dia rasakan, antara memilih untuk bersikap kritis atau lebih memilih untuk tetap diam.
Dalam konteks politik saat ini, pernyataan Megawati mencerminkan ketegangan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh beberapa tokoh politik terkait dengan arah kebijakan dan pembuatan peraturan di Indonesia. Pengamatan Megawati terhadap situasi ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dan keadilan dalam proses pembuatan aturan yang seharusnya melayani kepentingan publik dan bukan hanya kepentingan kekuasaan.
(N/014)
JAKARTA Kejaksaan Agung menyita lebih dari 104 ton komoditas timah milik terpidana Tamron alias Aon dalam perkara korupsi dan tindak pid
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Krisis iklim dan kerusakan lingkungan dinilai tidak lagi dapat diatasi hanya melalui pendekatan ilmiah. Dibutuhkan sinergi antar
NASIONAL
BENER MERIAH Pemerintah pusat bersama Pemerintah Aceh memperkuat koordinasi untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana
NASIONAL
MEDAN Persidangan dugaan korupsi proyek pengadaan papan tulis pintar (smartboard) Kota Tebing Tinggi mengungkap adanya dugaan aliran dan
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Peradi Bersatu menegaskan putusan praperadilan yang diajukan Roy Suryo terkait kasus dugaan penyebaran tudingan ijazah palsu Pre
HUKUM DAN KRIMINAL
BENER MERIAH Langkah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera memperkuat struktur Jembat
NASIONAL
MEDAN Wali Kota Medan Rico Waas mendorong setiap majelis taklim di Kota Medan memiliki program kerja yang nyata, berkelanjutan, dan lang
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan penataan kawasan Belawan tidak bisa lagi dilakukan secara bertahap atau parsia
PEMERINTAHAN
JAKARTA Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membantah informasi yang menyebut istri dan anak Menteri PU Dody Hanggodo, yakni Irma Hermawati
NASIONAL
JAKARTA PT PLN (Persero) mengungkap dampak ekonomi akibat pemadaman listrik atau blackout yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera pada
EKONOMI