BREAKING NEWS
Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Kembali Tertekan Imbas Geopolitik Global, Utang Pemerintah Nyaris Sentuh Rp10.000 Triliun

- Jumat, 08 Mei 2026 17:21 WIB
Rupiah Kembali Tertekan Imbas Geopolitik Global, Utang Pemerintah Nyaris Sentuh Rp10.000 Triliun
Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (8/5/2026). (Foto: seputarkolaka)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Rupiah turun 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS di tengah sentimen global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi utang pemerintah.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi situasi geopolitik global, khususnya konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas.

Menurut Ibrahim, pasar sempat berharap adanya kesepakatan damai yang membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Namun harapan itu kembali terganggu setelah bentrokan antara kedua negara pecah lagi.

Baca Juga:

"Pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran, mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan untuk kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz," kata Ibrahim dalam risetnya.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Sejumlah pejabat Federal Reserve disebut masih memberi sinyal berbeda terkait arah kebijakan moneter di tengah tingginya inflasi Amerika Serikat.

Di sisi lain, pelaku pasar kini menunggu data ketenagakerjaan AS yang diprediksi akan memengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga acuan.

Sementara dari dalam negeri, sentimen datang dari posisi utang pemerintah yang terus meningkat. Hingga 31 Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut naik hampir tiga persen dibanding posisi Desember 2025 yang berada di level Rp9.637,9 triliun.

Pemerintah menyatakan pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati dan terukur guna menjaga stabilitas fiskal serta mendukung pembiayaan APBN.

Meski rasio utang Indonesia masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen terhadap PDB, sejumlah lembaga internasional mulai menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara.

Sampai kuartal I 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB. Sementara realisasi pembiayaan utang mencapai Rp258,7 triliun.

Ibrahim memprediksi rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dengan rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.*

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Ambruk Lagi! Tembus Rp17.363 per Dolar AS
IBI Tanjab Timur Gelar Baksos Kesehatan Gratis, Fokus Tekan Stunting dan Perluas Layanan KB Terencana
Perry Warjiyo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah ke Dolar AS: Faktor Global dan Musiman Jadi Pemicu Utama
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.333 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Jadi Pendorong
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.330 per Dolar AS, Sentimen Global dan Data Ekonomi Jadi Penopang
Rupiah Naik 36 Poin ke Rp17.387 per Dolar AS, Dipicu Optimisme Pasar Global dan Ekonomi RI
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru