BREAKING NEWS
Rabu, 13 Mei 2026

Harga Batu Bara Dunia Terkoreksi ke Level US$134 per Ton, Pasar Energi Global Mulai Tertekan Imbas Penurunan Minyak

gusWedha - Minggu, 10 Mei 2026 14:38 WIB
Harga Batu Bara Dunia Terkoreksi ke Level US$134 per Ton, Pasar Energi Global Mulai Tertekan Imbas Penurunan Minyak
Harga batu bara dunia mengalami penurunan pada akhir pekan seiring melemahnya harga minyak mentah global dan meredanya ketegangan di pasar energi internasional yang sebelumnya sempat memanas. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Harga batu bara dunia mengalami penurunan pada akhir pekan seiring melemahnya harga minyak mentah global dan meredanya ketegangan di pasar energi internasional yang sebelumnya sempat memanas.

Harga batu bara global kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan setelah sebelumnya sempat menguat terbatas akibat gejolak geopolitik internasional.

Berdasarkan data perdagangan Refinitiv, harga batu bara tercatat turun 0,55 persen menjadi US$134,45 per ton pada Jumat (8/5/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi sejak awal pekan, meski sempat terjadi kenaikan tipis pada perdagangan sehari sebelumnya.

Baca Juga:

Pelaku pasar menilai penurunan harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang menekan pergerakan batu bara. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak dunia terpantau melemah cukup signifikan dibanding awal pekan saat ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kini berada di level US$95,52 per barel, sementara Brent turun ke US$101,29 per barel. Padahal sebelumnya, Brent sempat menyentuh level di atas US$114 per barel dan WTI berada di kisaran US$106 per barel.

Kondisi tersebut membuat pasar energi global mulai bergerak lebih stabil. Selama ini, batu bara dan minyak memiliki keterkaitan dalam mekanisme perdagangan energi dunia, di mana kenaikan harga minyak kerap mendorong permintaan batu bara sebagai alternatif energi, dan sebaliknya.

Selain faktor minyak, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan pasokan dan permintaan di negara konsumen utama seperti India dan China.

Di India, Coal India Ltd mencatat produksi batu bara pada April 2026 turun 9,7 persen menjadi 56,1 juta ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini memicu kekhawatiran di tengah lonjakan kebutuhan listrik akibat gelombang panas ekstrem.

Sementara itu, China juga melaporkan penurunan impor batu bara sebesar 14 persen secara tahunan menjadi 33,1 juta metrik ton pada April 2026. Meski demikian, aktivitas perdagangan domestik mulai stabil setelah libur Hari Buruh, meski permintaan belum sepenuhnya pulih.

Pengamat energi menilai pasar batu bara global saat ini masih dalam fase penyesuaian setelah sebelumnya terdorong oleh faktor geopolitik dan kekhawatiran pasokan energi dunia. Ke depan, harga diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif mengikuti dinamika ekonomi global dan kebutuhan energi negara industri utama.*

(dh)

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
RI dan China Perkuat Kerja Sama Inovasi Industri di Forum BRICS, Fokus pada Teknologi dan Investasi Masa Depan
Terungkap! Kantor Judi Online di Hayam Wuruk Sudah Beroperasi 2 Bulan, 321 WNA Diamankan Polisi
Menkeu Purbaya Siapkan Penerbitan Panda Bond Bulan Depan untuk Perkuat Pembiayaan Negara
IHSG Ditutup Menguat ke Level 7.092, Ikuti Bursa Asia di Tengah Turunnya Harga Minyak Dunia
Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Bank Indonesia Dorong Pasar Yuan–Rupiah Tumbuh
RI Hentikan Impor Beras, Pemerintah Klaim Harga Pangan Dunia Ikut Mengalami Penurunan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru