BREAKING NEWS
Selasa, 28 April 2026

Pengamat dan Fenomena Post Truth

BITV Admin - Rabu, 22 April 2026 08:21 WIB
Pengamat dan Fenomena Post Truth
Natalius Pigai, adalah Kritikus, Aktivis, Penulis dan Pejabat Pemerintah (Menteri HAM). (Foto: BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Semua program bersumber dari cita-cita Prabowo dalam ASTACITA, harta untuk rakyat dan tahta untuk rakyat.

Di tengah keberpihakan dan keberhasilan Pemerintah, kita sedang menyaksikan (sambil ketawa) sandiwara murahan para pengamat pembunuh kebenaran berimajinasi liar dan cenderung fantasi menggunakan pisau analisis logika mereka dengan variabel fallacy, memproduksi kebohongan, kebencian, iri, dengki, kejam dan jahat pada kebenaran, "mereka ramai-ramai membunuh kebenaran".

Oleh karena itu wajar jika para pengamat merasa ilmunya tidak dipakai tetapi konsisten pada jalur fallacy, maka para pembunuh kebenaran dengan ekspresi mereka hanya dapat dikategorikan sebagai "onani intelektual".

Pemimpin di negeri ini hadir dengan tulus dan penuh perasaan, peduli terhadap kaum marjinal dan orang-orang miskin. Pundi-pundi orang kaya yang tadinya tumbuh 10% per tahun, sekarang mulai terjaga keseimbangannya dengan pundi-pundi rakyat umum khususnya kelas menengah.

Pengusaha juga tumbuh, orang miskin mulai berkurang, rangking IPM dunia bangsa ini mulai membaik, Indeks rasio gini mencapai 0,363 tertinggi selama 15 tahun terakhir artinya ada peningkatan daya beli masyarakat dan peningkatan keseimbangan distribusi kesejahteraan yang merata.

Prestasi Prabowo luar biasa karena baru berjalan 1,6 tahun anggaran yang digunakan tidak sampai 4.000 Triliun APBN, namun kita melihat berbagai prestasi gemilang yang sedang diukir Prabowo Subianto.

Akhirnya juga saya mengukur kapasitas pembunuh kebenaran dengan hanya dilihat dari orasi-orasi verbal tanpa data, fakta dan informasi yang akurat. Narasi-narasi kosong yang mendobrak citra seakan-akan pembela kebenaran dan pembela keadilan.

Pertanyaannya sederhana, saat ini orang Papua berduka dalam kesedihan atas tragedi yang menimpa kaum bumiputera, namun saya tidak pernah mendengar kredo tentang elegi derita mereka.

Saya membaca alam bawah sadar (imajinasi) para pengamat dan oposisi, mereka berpandangan bahwa berkuasa itu enak, mumpung berkuasa, aji mumpung dan itulah kekuasaan, dengan berkuasa secara leluasa bernafsu memanfaatkan kekuasaan untuk dirinya, sanak saudaranya, koleganya dan masa depan kariernya.

Hal yang nyata terlihat dari oposisi yang mantan penguasa menggunakan sumber daya negara, sudah bukan rahasia bahwa LPDP dimanfaatkan anak-anak mantan penguasa dan orang kaya di negeri ini.

Sementara putra- putri yang brilian dari anak-anak miskin dan pinggiran kesulitan mendapatkan akses biaya negara.

Ada benarnya jika seorang tokoh asal Inggris Lord Acton menyatakan bahwa kekuasaan cenderung korup dan mau melakukan korupsi secara mutlak (power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely).

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Modal Usaha Rp100 Juta dari KUR BRI 2026, Ini Cara Ajukan dan Syaratnya
Wakil Wali Kota Medan Ajak Relawan Yakinkan Publik Soal RS Pemerintah: Kami Sudah Berbenah, Tak Seperti Dulu Lagi
UU PPRT Disahkan, Jadi Babak Baru Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
RI Kejar Investasi Rp 13.000 Triliun hingga 2029, Rosan Sebut Target dari Bappenas untuk Dorong Ekonomi 8 Persen
Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan PLTS, Fokus Kurangi Ketergantungan Pembangkit Diesel Nasional
Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik, Inflasi dan Daya Beli Masyarakat Tetap Terjaga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru