Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid menjadi pusat aktivitas sosial-keagamaan dan tercatat sebagai ruang pergerakan ulama menentang kolonialisme Belanda pada 1930-an.
Saat ini, masyarakat setempat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perdagangan, serta kerajinan tradisional seperti manik-manik dan tenun. Nilai gotong royong masih menjadi ciri khas kehidupan sosial warga.
Semangat kebersamaan itu tampak dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Sipirok Godang, Selasa (27/1/2026) di Aula Kantor Kelurahan.
Acara dihadiri Camat Sipirok Sahruddin Perwira, S.Sos., MM, Lurah Damayanti Siregar, S.Sos., Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, dan warga.
Ia menekankan Musrenbang sebagai forum strategis dan partisipatif untuk menyelaraskan aspirasi masyarakat dengan kebijakan pembangunan daerah.
Usulan pembangunan diharapkan prioritas, rasional, selaras RPJMD, dan sesuai kemampuan anggaran pemerintah agar memberi manfaat nyata.
Lurah Damayanti Siregar menyampaikan apresiasi atas partisipasi warga. "Kelurahan Sipirok Godang bukan hanya hidup dari sejarahnya, tetapi terus menata masa depan bersama warganya," ujarnya.
Dari jejak kayu pirdot hingga ruang musyawarah, Sipirok Godang membuktikan diri sebagai kelurahan yang berakar kuat pada sejarah, namun bergerak maju dengan semangat kebersamaan dan partisipasi warga.*
(dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Dari Jejak Kayu Pirdot hingga Musrenbang, Sipirok Godang Tampilkan Semangat Gotong Royong Warga