BREAKING NEWS
Sabtu, 11 Juli 2026

Pemanasan Global Rugikan Pertanian Dunia hingga Rp361 Triliun per Tahun!

Dharma - Sabtu, 11 Juli 2026 16:43 WIB
Pemanasan Global Rugikan Pertanian Dunia hingga Rp361 Triliun per Tahun!
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Pemanasan global diperkirakan telah menyebabkan kerugian besar pada sektor pertanian dunia.

Sebuah penelitian terbaru menyebut cuaca panas ekstrem dan kekeringan akibat perubahan iklim memicu kerugian panen jagung, gandum, dan kedelai senilai sekitar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp361,6 triliun setiap tahun.

Penelitian yang dikutip dari New Scientist pada Jumat (10/7/2026) memperingatkan, jika emisi gas rumah kaca tidak ditekan secara signifikan, kerugian tersebut berpotensi meningkat hingga lebih dari 160 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.900 triliun per tahun pada 2100.

Baca Juga:

Meski kerugian ekonomi terbesar diperkirakan terjadi di negara-negara produsen pangan utama seperti Amerika Serikat, dampak sosial yang paling berat diprediksi akan dirasakan negara-negara berkembang yang sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian.

"Jika melihat negara-negara paling tertinggal di Afrika, dampaknya jauh lebih besar. Hal ini bisa memicu kerusuhan sosial dan peningkatan gelombang perpindahan penduduk," ujar peneliti dari International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) Austria, Yi Ling Hwong.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengumpulkan data produksi jagung, gandum, dan kedelai dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), kemudian membandingkannya dengan data suhu dan tingkat kekeringan tanah selama beberapa dekade.

Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan kekeringan telah menyebabkan penurunan hasil panen sekitar 3,5 persen dibandingkan periode 1974–2004.

Menurut anggota tim peneliti Kai Kornhuber, angka tersebut terlihat kecil, tetapi memiliki dampak besar terhadap pasokan pangan dunia.

"Angka sekitar tiga persen mungkin terdengar kecil, tetapi ini adalah dampak yang sangat besar bagi pasar pangan global, yang di beberapa wilayah bisa memicu krisis pangan yang parah," katanya.

Penelitian kemudian menghitung nilai ekonomi dari penurunan produksi tersebut berdasarkan harga komoditas yang diterima petani.

Dalam skenario emisi tinggi atau SSP3-7.0, para peneliti memperkirakan produksi tiga komoditas utama dunia dapat turun hingga 35 persen pada akhir abad ini.

Akibatnya, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai lebih dari 161 miliar dolar AS setiap tahun.

Menurut Hwong, total hasil panen yang hilang dapat mencapai sekitar 855 juta ton setiap tahun.

"Saya rasa jumlah makanan yang hilang itu setara dengan porsi makanan yang dikonsumsi oleh sekitar 2 miliar orang dalam waktu satu tahun," ujarnya.

Peneliti juga mengingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan masih lebih rendah dibandingkan dampak sebenarnya.

Sebab, penelitian ini hanya menghitung tiga komoditas utama dan belum memasukkan kerugian akibat banjir, badai, hujan ekstrem, maupun lonjakan harga pangan yang dipicu kelangkaan pasokan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah komoditas seperti kopi dan kakao juga mulai mengalami kenaikan harga akibat gangguan iklim.

Meski demikian, sejumlah ilmuwan menilai proyeksi hingga tahun 2100 masih memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi.

Peneliti Universitas Columbia, Jonas Jägermeyr, mengatakan metode yang menggunakan hubungan data masa lalu dengan kondisi cuaca belum tentu mampu menggambarkan perubahan lingkungan yang sangat ekstrem di masa depan.

"Model hitungan data seperti ini sangat bagus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang, serta masa lalu dan masa depan yang dekat. Namun, cara ini pada dasarnya tidak bisa diandalkan jika dipaksa menghitung kondisi lingkungan yang sudah berubah total secara ekstrem," katanya.

Sementara itu, peneliti dari Universitas Queensland, Karine Chenu, menilai simulasi komputer yang memperhitungkan respons tanaman terhadap peningkatan karbon dioksida dan suhu udara lebih sesuai untuk memprediksi kondisi pertanian pada masa mendatang.

Meski demikian, ia mengakui model tersebut juga masih memiliki keterbatasan dalam memperkirakan dampak gabungan antara gelombang panas dan kekeringan yang terjadi secara bersamaan.

Para peneliti berharap hasil studi ini dapat meningkatkan kesadaran berbagai negara untuk mempercepat upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, sehingga risiko krisis pangan global di masa depan dapat diminimalkan.* (km/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Jalan Tol Menuju Danau Toba Tak Lagi Gratis! Ini Tarif Terbaru Tol Sinaksak–Simpang Panei
Cabai Makin Pedas, Harganya Nyaris Rp60 Ribu per Kg dan Jadi Beban Baru Konsumen
Harga Semen Menggila di Batu Bara, Disnakerprindag Disorot, Kadis Bungkam Saat Dikonfirmasi
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Tertinggi Capai 33 Derajat Celsius
Prakiraan Cuaca Sumut Hari Ini, Mayoritas Wilayah Berawan, Nias hingga Madina Diguyur Hujan Ringan
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Berawan, Suhu Capai 34 Derajat Celsius
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru