BREAKING NEWS
Jumat, 22 Mei 2026

Dolar AS Tembus Rp17.700, BI Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Separah Krisis 1998

Nurul - Jumat, 22 Mei 2026 16:06 WIB
Dolar AS Tembus Rp17.700, BI Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Separah Krisis 1998
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Foto: Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik setelah mata uang Garuda menyentuh level Rp17.700 per dolar AS.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dibanding krisis moneter 1997-1998.

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 5,5 persen dari posisi sebelumnya di kisaran Rp16.680 per dolar AS.

Baca Juga:

"Sekarang memang terlihat Rp17.700-an, tapi kalau dilihat pelemahannya sekitar 5,5 persen," ujar Aida dalam Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5/2026).

Menurut Aida, pelemahan rupiah kali ini tidak terjadi secara drastis dan mendadak seperti saat krisis moneter 1998 yang membuat rupiah anjlok dari Rp2.300 ke Rp17.000 dalam waktu singkat.

"Berbeda dengan tahun 1997-1998. Saat itu pelemahannya sangat tiba-tiba dan drastis," katanya.

BI, lanjut Aida, terus melakukan berbagai langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Salah satunya melalui intervensi pasar valas baik di dalam negeri maupun pasar luar negeri.

Selain itu, BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas dan stabilitas harga obligasi pemerintah.

"Kita juga melakukan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik kalau tidak memiliki underlying," ujarnya.

Aida menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kondisi transaksi berjalan Indonesia yang masih mengalami defisit. Artinya, pembayaran ke luar negeri lebih besar dibanding penerimaan dari luar negeri.

Di sisi lain, arus modal asing yang masuk ke Indonesia juga mengalami perlambatan sehingga pemerintah dan BI terus berupaya menarik kembali investasi asing ke pasar domestik.

"Karena itu kita harus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia agar kebutuhan pembayaran luar negeri bisa terpenuhi," kata Aida.*

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Purbaya Yakin Rupiah Bisa Tembus Rp15.000 per Dolar AS, Pelaku Valas Diminta Bersiap
Rupiah Kembali Loyo, Nyaris Tembus Level Rp17.700 per Dolar AS
Rupiah Tiba-Tiba Menguat ke Rp17.653! Ada Apa dengan Pasar Hari Ini?
Rupiah Menguat Usai Pidato Prabowo di DPR, Ditutup di Rp17.653 per Dolar AS
Surya Paloh soal Rupiah Anjlok: Selain Optimisme, Apa Lagi yang Kita Punya?
Pimpinan DPR Yakin Rupiah Menguat Usai Paparan Ekonomi Prabowo di DPR
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru