BREAKING NEWS
Sabtu, 11 Juli 2026

Harga Hunian Makin Berat Dijangkau, Generasi Muda Kini Lebih Pilih Sewa Rumah

Nurul - Sabtu, 11 Juli 2026 19:59 WIB
Harga Hunian Makin Berat Dijangkau, Generasi Muda Kini Lebih Pilih Sewa Rumah
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Tren masyarakat Indonesia dalam mencari hunian mengalami perubahan besar.

Dalam lima kuartal terakhir, minat terhadap hunian sewa terus meningkat, sementara keinginan untuk membeli rumah justru mengalami penurunan.

Berdasarkan data Rumah123, pada periode April–Juni 2026, sebanyak 58,6 persen pencarian dan permintaan informasi (enquiry) pengguna mengarah pada hunian sewa.

Baca Juga:

Sementara itu, pencarian hunian beli hanya mencapai 41,4 persen.

Angka tersebut menjadi selisih terbesar sejak April 2025 dengan perbedaan mencapai 17,2 poin persentase.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, tren perubahan ini semakin terlihat.

Pada saat itu, komposisi pencarian hunian masih berada di angka 53,4 persen untuk sewa dan 46,6 persen untuk beli.

Meski secara angka perbedaannya belum terlalu jauh, arah pergerakannya menunjukkan pola yang konsisten.

Minat masyarakat terhadap hunian sewa terus naik setiap kuartal, sedangkan minat membeli rumah perlahan menurun.

Pertumbuhan tahunan memperlihatkan perubahan yang lebih signifikan.

Permintaan hunian sewa tercatat tumbuh 8,2 persen secara tahunan atau year-on-year.

Sebaliknya, permintaan hunian beli mengalami penurunan hingga 19,8 persen pada periode yang sama.

Bahkan secara kuartalan, minat membeli rumah masih terkoreksi sebesar 4,2 persen.

Penurunan minat beli rumah sempat mencapai titik terendah pada Kuartal IV-2025.

Saat itu, porsi pencarian hunian beli hanya berada di angka 15,6 persen.

Angka tersebut kemudian sempat pulih pada Kuartal I-2026 menjadi 43,2 persen, tetapi kembali melemah pada kuartal berikutnya menjadi 41,4 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar properti tidak hanya mengalami perlambatan biasa, melainkan sempat mengalami tekanan besar yang membuat sebagian masyarakat menunda keputusan membeli rumah.

Sinyal pelemahan pasar rumah juga terlihat dari aktivitas simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Rumah123 mencatat aktivitas simulasi KPR turun 11,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Namun, masyarakat yang masih melakukan simulasi ternyata lebih banyak mengincar rumah dengan harga terjangkau.

Sebanyak 35,2 persen simulasi KPR ditujukan untuk rumah dengan harga di bawah Rp500 juta.

Sementara 30,5 persen lainnya mengarah pada rumah dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar.

Artinya, lebih dari 65 persen calon pembeli masih berada pada segmen harga yang relatif rendah.

Data tersebut menunjukkan bahwa keinginan memiliki rumah belum sepenuhnya hilang.

Namun, masyarakat semakin berhati-hati dan sangat mempertimbangkan kemampuan finansial.

Pilihan tenor KPR juga memperlihatkan hal serupa.

Tenor 16–20 tahun menjadi pilihan terbesar dengan porsi 36,9 persen, disusul tenor 10 tahun sebesar 30,1 persen dan tenor 11–15 tahun sebesar 28,1 persen.

Calon pembeli saat ini cenderung memilih cicilan lebih panjang agar beban pembayaran setiap bulan lebih ringan.

Perubahan perilaku pasar properti banyak dipengaruhi oleh kelompok usia muda.

Rumah123 mencatat sekitar 53,9 persen penggunanya berasal dari kelompok usia 18–34 tahun.

Kelompok ini umumnya masih berada dalam fase membangun karier, mengumpulkan tabungan uang muka, serta menghadapi perubahan kebutuhan hidup.

Bagi sebagian generasi muda, menyewa rumah dianggap lebih fleksibel dibandingkan langsung mengambil cicilan jangka panjang hingga 15–20 tahun.

Terlebih, mobilitas pekerjaan yang tinggi membuat sebagian orang belum yakin untuk terikat pada satu lokasi hunian dalam waktu lama.

Head of Research Rumah123 Marisa Jaya menyebut perubahan tersebut bukan berarti masyarakat kehilangan keinginan untuk memiliki rumah.

"Fenomena ini adalah perubahan urutan pengambilan keputusan," dengan menyewa berperan sebagai "fase transisi sebelum membeli, terutama bagi generasi muda yang masih membangun stabilitas finansial maupun fleksibilitas mobilitas," ujar Marisa.

Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menyewa terlebih dahulu sambil mempersiapkan kondisi keuangan dan menunggu waktu yang tepat untuk membeli rumah.

Perubahan tren ini juga terlihat dari kata kunci pencarian properti.

Kata "subsidi" menjadi pencarian paling dominan dengan porsi 10,02 persen dari seluruh sesi pencarian.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding kata kunci seperti "cluster" sebesar 6,10 persen dan "mewah" sebesar 4,84 persen.

Dominasi pencarian rumah subsidi menunjukkan bahwa masyarakat semakin memperhatikan harga dan kemampuan membayar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah dan pelaku industri properti agar menyediakan lebih banyak pilihan hunian yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.

Sebab, fenomena meningkatnya minat sewa bukan hanya soal perubahan gaya hidup, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya jarak antara harga rumah dengan kemampuan beli masyarakat.

Ke depan, kebijakan perumahan seperti subsidi KPR, penyediaan hunian terjangkau, serta skema pembiayaan yang lebih fleksibel menjadi faktor penting agar generasi muda tetap memiliki peluang untuk memiliki rumah.* (km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pemanasan Global Rugikan Pertanian Dunia hingga Rp361 Triliun per Tahun!
Dinkes Sumut Temukan Ribuan Warga Terindikasi Gangguan Kesehatan Jiwa Lewat Skrining CKG, Remaja Jadi Kelompok Terbanyak
Polrestabes Medan Gerebek Gudang Vape Narkoba Berkedok Rumah Kos, 680 Barang Bukti Disita
Yaqut Kembali Ditahan KPK usai Pulih dari Operasi, Penyidikan Kasus Kuota Haji Berlanjut
Kabar Baik! Bahlil Pastikan Harga BBM B50 untuk Nelayan dan Petani Tetap Rp6.800 per Liter, Disubsidi Dana BPDP
Barang Bukti Rp476 Miliar dari Rumah Sentul Tiba di Polda Metro Jaya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru