BREAKING NEWS
Minggu, 24 Mei 2026

Dari Gus Dur sampai Gus Yahya, Ini “Peta Jalan” Ketum PBNU Masa Depan

BITV Admin - Minggu, 24 Mei 2026 09:08 WIB
Dari Gus Dur sampai Gus Yahya, Ini “Peta Jalan” Ketum PBNU Masa Depan
Mohammad Dawam. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Kyai Said juga memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan kader NU. Kampus-kampus NU berkembang pesat di berbagai daerah, termasuk penguatan jejaring pendidikan luar negeri. Program pengiriman kader NU belajar ke Timur Tengah hingga Iran menunjukkan visi besar beliau dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan yang lebih luas dan terbuka.

Pembangunan universitas dan rumah sakit NU yang dirintis pada masa kepemimpinannya menjadi fondasi penting yang harus terus dilanjutkan pada masa mendatang.

Model Kepemimpinan Gus Yahya

Sementara itu, model keempat tampak pada kepemimpinan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Karakter utama kepemimpinannya adalah penataan administrasi organisasi yang lebih modern dan terintegrasi.

Kebijakan manajemen satu pintu melalui sistem administrasi PBNU menjadikan tata kelola organisasi lebih tertib, terkontrol, dan terukur.

Konsep ini memang memunculkan kesan lebih ketat dan birokratis, namun memiliki tujuan besar dalam membangun akuntabilitas kelembagaan NU secara profesional. Penataan sistem administrasi dan pengelolaan keuangan organisasi yang lebih terintegrasi menjadi warisan penting yang perlu disempurnakan secara lebih dinamis dan elegan di masa depan.

Meramu "Madu Peradaban" NU

Dari keempat model kepemimpinan tersebut, NU sejatinya memiliki "madu peradaban" yang dapat dipadukan menjadi arah baru organisasi.

Filosofi NU:

Al-Muhafadhatu 'Alal Qadiimish-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadiidil Ashlah
"Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik."

menjadi landasan penting untuk merawat warisan kepemimpinan yang positif sekaligus melakukan inovasi sesuai tuntutan zaman.

Ke depan, PBNU perlu memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah, civil society, dunia usaha, dan komunitas internasional dalam rangka menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan rakyat.

NU juga perlu mengedepankan sistem meritokrasi dalam mendorong kader-kader terbaiknya mengisi ruang-ruang strategis pengambilan kebijakan negara, baik di sektor eksekutif, legislatif, yudikatif, diplomasi, maupun lembaga-lembaga negara lainnya.

Dengan demikian, kehadiran NU tidak hanya menjadi kekuatan moral dan sosial keagamaan, tetapi juga menjadi mitra strategis negara dalam membangun peradaban bangsa yang berkeadilan, moderat, dan berkemajuan.

Semoga Nahdlatul Ulama terus istiqamah menjadi pelita peradaban bagi umat, bangsa, dan dunia.*

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rico Waas, Kapolrestabes dan Dandim Kompak Gotong Royong di Stadion Teladan Sambut AFF U-19 2026
Pigai Larang Tembak di Tempat Pelaku Begal, Polda Metro Jaya: Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas Utama
Relawan WNI Dibebaskan Israel, GPCI Pastikan Misi Kemanusiaan ke Gaza Berlanjut
TNI AD Siap Sulap Sampah Bali Jadi Energi, Proyek PSEL Dikebut hingga 2027
Prabowo Kumpulkan Eks Bos BI di Istana, Bahas Antisipasi Krisis Ekonomi
Niat Lerai Perkelahian, Pemuda di Langkat Malah Tewas Dikeroyok dan Ditusuk
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru